BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam menghadapi Abad 21 yang ditandai oleh
liberalisasi perdagangan diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar siap menghadapi persaingan
global yang makin terbuka.
Selaras dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional tentang
relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan, maka proses pendidikan di
perguruan tinggi harus memperhatikan lingkungan dan kebutuhan dunia kerja
khususnya dunia usaha dan/ atau dunia industri.
Dunia kerja pada masa mendatang secara
selektif akan menjaring calon tenaga kerja yang benar-benar profesional pada
bidangnya, karena dengan persaingan global akan makin terbuka lebar kesempatan
bagi tenaga kerja asing untuk memasuki/menguasai dunia kerja di Indonesia. Oleh
karena itu salah satu tantangan utama bagi lulusan perguruan tinggi adalah
mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memasuki dunia kerja.
Salah satu upaya peningkatan SDM khususnya
dalam pendidikan tinggi adalah melalui program Praktek Kerja Lapangan yang
merupakan sarana penting bagi pengembangan diri dan kemampuan berwirausaha
serta kemandirian bagi lulusannya.
1.2. Ruang Lingkup
Di
dalam Perusahaan Listrik Negara (PLN) APJ Semarang terdapat bagian-bagian kerja
yang saling berhubungan dan mempunyai fungsi masing-masing. Dalam laporan akhir
program Praktek Kerja Lapangan ini hanya
akan dibahas mengenai apa yang ada pada bagian kerja Distribusi di PT. PLN APJ
Semarang.
1.3. Tujuan Dari Progaram Praktek
Kerja Lapangan
Praktek Kerja Lapangan merupakan suatu bentuk pendidikan
yang memadukan proses belajar akademik dengan pengalaman kerja yang terencana,
terbimbing dan mendapat insentif. Program Praktek
Kerja Lapangan memungkinkan mahasiswa memperoleh kemampuan yang praktis
dengan dihadapkan pada penerapan dunia kerja di luar kampus. Melalui program Praktek Kerja Lapangan akan diperoleh calon tenaga
kerja yang mandiri, profesional, dan siap memasuki dunia kerja. Lama
pelaksanaan PKL secara umum adalah antara 3-6 bulan.
Maksud dan tujuan diadakannya program Praktek
Kerja Lapangan di PT PLN (PERSERO) adalah :
· Mempercepat waktu
penyesuaian bagi lulusan perguruan tinggi dalam memasuki dunia kerja
· Meningkatkan kualitas
SDM bagi calon tenaga kerja yang mandiri dan professional
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi untuk
mengikuti program Praktek Kerja Lapangan adalah sebgai berikut :
1. Dapat diikuti oleh
semua mahasiswa dari semua program studi dengan melalui seleksi
2.
Mendapat izin pimpinan perguruan tinggi dan dari orang tua
3.
Minimal duduk di semester 6, tetapi belum lulus
4.
Memiliki semangat kerja dan dapat bersosialisasi dalam suatu organisasi/dunia
kerja
5. Memiliki motivasi
yang tinggi, ketekunan, dan ketahanan mental
6.
Mentaati
peraturan yang berlaku di tempat kerja yang bersangkutan
Dengan adanya program Praktek
Kerja Lapangan ini mendatangkan banyak manfaat
Diantaranya
:
a. Perusahaan :
1. Mempermudah
perusahaan dalam merekrut calon karyawan yang professional
2. Membantu perusahaan
dalam meningkatkan mutu karyawan
3. Menghemat dana
untuk pengembangan SDM
4. Membina hubungan
kemitraan antara perguruan tinggi dan perusahaan.
b. Perguruan Tinggi :
1. Menyesuaikan metode
dan isi kuliah agar lebih relevan dengan dunia kerja
2. Meningkatkan
kemampuan tenaga pengajar agar memberikan kuliah yang relevan dengan dunia
kerja disamping mutu akademisnya
3. Membina hubungan
kemitraan antara perguruan tinggi dan perusahaan dalam sarana dan prasarana
pendidikan
4. Membekali kemampuan
dasar yang memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan dalam pekerjaan
5. Meningkatkan
kualitas program praktek kerja lapangan para lulusannya.
c. Mahasiswa
1.
Memiliki pengalaman kerja di suatu perusahaan
2.
Menerapkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari perguruan tinggi dalam dunia
kerja
3. Memberikan
kesempatan kerja yang lebih besar
4. Memperoleh insentif
sesuai dengan kemampuannya
5.
Memberikan kesempatan mencari pengalaman, promosi, dan peningkatan karir
6. Memperoleh pengalaman berorganisasi
dalam tim kerja nyata.
BAB II
PT. PLN (PERSERO)
2.1
Sejarah Singkat Perusahaan Listrik Negara
Sejarah
perkembangan PT. PLN terdiri dari beberapa tahapan – tahapan atau beberapa
periode :
a.
Periode sebelum tahun 1943 – 1945
Pada tahun ini pengusahaan kelistrikan di Indonesia dirintis
oleh perusahaan listrik swasta Belanda, yaitu seperti NV. ANIEM, NV. GEBEO, NV.
OGEM dan perusahaan lokal lainnya.
b.
Periode tahun 1943 – 1945
Pada
periode ini, perusahaan listrik swasta dikuasai oleh jepang dan dikelola
menurut situasi daerah tertentu seperti perusahaan listrik Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan lain – lain.
c.
Periode tahun 1945-1950
Pada
periode ini perusahaan listrik dan gas diambil alih oleh Pemerintah Republik
Indonesia dari tangan Jepang dan melalui Ketetapan Presiden Republik Indonesia
Nomor 1/SD/1945 tanggal 27 Oktober 1945, dibentuk jawatan listrik dan gas yang
berkedudukan di Yogyakarta.
Pada
masa Agresi Belanda I (19 Desember 1948) perusahaan listrik yang dibentuk
dengan Ketetapan Presiden di atas dikuasai oleh pemilik semula. Pada Agresi
Belanda II sebagian besar kantor jawatan listrik dan gas direbut kembali oleh
pemerintah Belanda, sedangkan perusahaan listrik swasta diserahkan pada pemilik
semula sesuai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB).
d.
Periode tahun 1951 – 1966
Jawatan
tenaga membawahi perusahaan untuk perusahaan Tenaga Listrik (PENUPETEL) dan
diperluas membawahi juga perusahaan Negara untuk Distribusi Tenaga Listrik.
Pada tahun 1952 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 163 tanggal 3 Oktober
1953 tentang nasionalisasi perusahaan listrik milik bangsa Belanda yaitu jika
kasasi penguasaannya telah berakhir, maka beberapa perusahaan listrik milik
swasta tersebut diambil alih dan digabungkan ke jawatan Negara. Pada tahun 1959
setelah Dewan Direktur Perusahaan Listrik Negara (DD PLN) terbentuk berdasarkan
Undang – Undang Nomor 19 tahun 1960 tentang Perusahaan Negara dan melalui
Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 tahun 1961 dibentuklah Badan Pimpinan Umum PLN
(BPU PLN) yang mengelola semua Perusahaan Listrik Negara dan Gas dalam satu
wadag organisasi.
Pekerjaan
Umum dan Tenaga pada saat itu menetapkan SK Menteri PUT Nomor Menteri 19/01/20
tanggal 20 Mei 1961 yang memuat arahan sebagai berikut :
1. BPU adalah suatu Perusahaan
Negara yang diserahi tugas menguasai dan mengurus perusahaan – perusahaan
listrik dan gas yang berbebtuk badan hukum.
2. Organisasi BPU PLN dipimpin oleh
direksi.
3. Di daerah dibentuk daerah
aksploitasi yang terdiri atas :
- 10 daerah eksploitasi listrik umum
dan distribusi
- 2 daerah eksploitasi khusus
distribusi listrik
- 1 daerah eksploitasi khusus pembangit
listrik
- 13 Pembangkit Listrik Negara
eksploitasi proyek kelistrikan.
4. Daerah
eksploitasi khusus distribusi dibagi lebih lanjut menjadi cabang dan ranting.
5. Daerah eksploitasi khusus pembangkit
dibagi lebih lanjut menjadi sektor.
e. Periode tahun 1967 – 1985
Dalam kabinet Pembangunan I Dirjen
GATRIK PLN dan Lembaga Masalah Ketenagaan (LMK) dialihkan ke Departemen
Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL). Lembaga masalah ketenagaan (LMK)
ditetapkan dalam pengelolaan PLN melalui Peraturan Menteri PUTL Nomor
6/PRT/1970.
Tahun 1972 PLN ditetapkan sebagai
perusahaan Umum melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10, Pemerintah juga
memberi tugas dibidang kelistrikan kepada PLN untuk mengatur, membina,
mengawasi, dan melaksanakan perencanaan umum dibidang kelistrikan nasional
disamping tugas – tugas sebagai perusahaan. Mengingat kebijakan energi dan PLN
seta PGN dari Departemen dibidang Ketenagaan selanjutnya ditangani oleh Dirjen
Ketenagaan (1981).
Dalam Kabinet Pembangunan IV Dirjen
Ketenagaan diubah menjadi Dirjen Listrik dan Energi Baru (LEB). Perubahan nama ini untuk memperjelas
tugas dan fungsinya yaitu :
-
Program Kelistrikan
-
Pembinaan – pembinaan pengesahan.
-
Pengembangan energi baru.
Tugas
– tugas pemerintah yang semula dipikul PLN secara bertahap dikembalikan ke
Departemen sehingga PLN dapat lebih memusatkan fungsinya sebagai perusahaan.
f.
Periode tahun 1985 – 1990
Mengingat tenaga listrik sangat penting bagi pningkatan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara umum serta mendorong peningkatan
kegiatan ekonomi secara umum, oleh karena itu usaha penyediaan tenaga listrik,
pemanfaatan dan pengelolaan perlu ditingkatkan agar tersedia tenaga listrik
dalam jumlah yang cukup merata dengan pelayanan mutu yang baik. Kemudian dalam
rangka peningkatan pembangunan yang berkesinambungan dibidang tenaga listrik
diperlukan upaya secara optimal memanfaatkan sumber energi untuk membangkitkan
tenaga listrik sehingga penyediaan tenaga listrik terjamin. Untuk mencapai
maksud tersebut pemerintah menganggap bahwa ketentuan dan perundang – undangan
yang sudah ada tidak lagi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan listrik maka
bersama – sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menetapkan
Undang – Undang Nomor 15 tahun 1985.
Keputusan pengadaan Undang – Undang “ Jawatan “ tersebut,
pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 1989 tentang
Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik. Berdasarkan Undang – Undang dan
peraturan pemerintah tersebut ditetapkan bahwa PLN merupakan salah satu
pemegang kekuasaan usaha tenaga listrik. Sesuai dengan makna yang terkandung
dalam Undang – Undang dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 1990 tentang
Perusahaan Umum (PERUM) Listrik Negara. Peraturan ini merupakan dasar hukum
pengelolaan PERUM Listrik Negara sebagai pemegang kuasa usaha ketenagaan
listrik.
g.
Periode tahun 1990 – sekarang
Dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha penyediaan tenaga
listrik maka PERUM Listrik Negara yang didirikan dengan PP Nomor 17 Tahun 1990
dinilai memenihu persyaratan untuk dialihkan bentuknya menjadi PERSERO.
Selanjutnya dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 1994
tanggal 6 April 1994 tentang pengalihan bentuk PERUM menjadi PERSERO hal ini
tercantum dalam anggaran dasar PT. PLN (PERSERO) Akte Notaris Sujipto, SH Nomor
109 tanggal 30 Juli 1994.
2.2. Visi, Misi, dan Motto
Perusahaan Listrik Negara
PT.PLN
mempunyai visi dan misi dalam menjalankan tugas-tugasnya dan dalam menghadapi
era globalisasi saat ini.
Visi
PLN, yaitu :
Diakui
sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang unggul, unggul, dan
terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.
Misi
PLN yaitu :
a. Menjalankan bisnis kelistrikan
dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota
perusahaan, dan pemegang saham.
b. Menjadikan tenaga listriak
sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
c. Mengupayakan agar tenaga listrik
menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
d. Menjalankan kegiatan usaha yang
berwawasan lingkungan.
Motto PLN, yaitu :
Listrik
untuk kehidupan yang lebih baik
(
Electricity for a better life )
BAB III
PT. PLN ( PERSERO ) AREA PELAYANAN dan JARINGAN SEMARANG
3.1. Sejarah PT. PLN (PERSERO) Area Pelayanan dan Jaringan
Semarang
Dengan
dikeluarkannya Undang – Undang 86 Tahun 1958 tertanggal 27 Desember 1958
tentang Nasionalisasi semua perusahaan Belanda dan Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan Listrik dan Gas milik Belanda.
Dengan itu maka seluruh perusahaan listrik Belanda berada di tangan bangsa
Indonesia.
Di
Jawa Tengah setelah diambil alih dari kekuasaan Belanda Perusahaan Listrik yang
semula bernama NV ANIEM berubah nama menjadi PN Perusahaan Listrik Negara (PN
PLN).
Sesuai
Surat Keputusan Direksi PLN pada tahun 1965 PN PLN Jawa Tengah berubah nama
menjadi PLN Exploitasi X kemudian PLN Wilayah XIII.
Pada
tahun 1972 keluar Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1972
dari PN PLN berubah nama menjadi Perusahaan Umum Listrik Negara (PERUM) dan
pada tahun 1994 dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1994
Tanggal 16 Juni 1994 pengalihan bentuk Perusahaan LIstrik Negara menjadi PT PLN
(PERSERO) DISTRIBUSI JAWA TENGAH.
Dengan
adanya Restrukturisasi tahun 2000, sesuai Keputusan General Manajer Nomor :
038.K/021/PD.I/2001 tanggal 10 April 2001 PT. PLN (PERSERO) Area Pelayanan
Pelanggan disingkat PT. PLN (PERSERO) AP Semarang dan Ranting berubah menjadi
Unit Pelayanan Pelanggan disingkat UP.
Pada
tahun 2003, melalui Keputusan General Manager PT. PLN (PERSERO) Distribusi Jawa
Tengah dan D.I. Yogyakarta Nomor 123.K/021/GM/2003 berubah struktur organisasi
menjadi APJ sedangkan unitnya menjadi UP/UJ dan UPJ.
3.2.
Lokasi PT. PLN (PERSERO) Area Pelayanan dan Jaringan Semarang
Lokasi
PT. PLN (PERSERO) Area Pelayanan dan Jaringan Semarang bertempat di Pemuda
Nomor 93 Semarang, Telp : (024) 354 7651-55, Kotak Pos : 50139, Faximile :
(024) 351 3708, Email : apjsemarang@telkom.net, website : www.apjsemarang.com.
3.3. Bidang Usaha dan Wilayah Kerja PT. PLN (PERSERO) APJ
Semarang
Didalam penyelenggaraan dan pelayanan listrik Negara untuk umum
dalam negeri, PT. PLN (PERSERO) APJ Semarang memberikan jasa pelayanan kepada
pelanggan yaitu :
a. Pelayanan pemberian tata cara
perhitungan besarnya biaya listrik.
b. Pelayanan pemberian informasi
penyambungan tenaga listrik kepada calon pelanggan, pelanggan dan masyarakat.
c. Lelayanan permintaan penyambungan
baru, perubahan daya, penyambungan sementara, perubahan tarif, balik nama
pelanggan dan pelayanan lainnya serta pengendalian pelanggan.
d. Pelayanan pembayaran Biaya
Penyambungan (BP), Uang Jaminan Pelanggan (UJL), Tagihan Susulan (TS), biaya
sementara, biaya perubahan dan biaya lainnya yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
e. Membuat kuitansi penerimaan
pembayaran biaya penyambungan.
f. Membuat perintah kerja yang
berhubungan dengan pelaksanaan pemasangan, perbaikan, perubahan, penambahan
atau pembongkaran sambungan tenaga listrik.
PT. PLN (PERSERO) APJ Semarang
membawahi beberapa unit pelayanan, yaitu :
a. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Selatan
b. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Barat
c. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Tangah
d. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Timur
e. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Kendal
f. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Demak
g.
PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Purwodadi
h.
PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Tegowanu
i.
PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Weleri
j. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Boja
3.3. Pengenalan Umum Struktur Organisasi PT. PLN APJ Semarang
Area
Pelayanan dan Jaringan (APJ) Semarang merupakan Area yang tergolong kecil
dengan membawahi tiga Unit Pelayanan (UP) dan satu Unit Jaringan (UJ).
Susunan Organisasi Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) sbb:
3.4. Tugas
Pokok dan Fungsi Organisasi Pada Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Semarang
3.3.1Manajer Area Pelayanan & Jaringan
Tugas
Pokok Manajer Area Pelayanan & Jaringan adalah:
Bertanggung jawab atas pengelolaan usaha secara efisien dan
efektif serta menjamin penerimaan hasil penjualan tenaga listrik, peningkatan
kualitas pelayanan, pelaksanaan pengelolaan jaringan tegangan menengah (JTM),
jaringan tegangan rendah (JTR), sambungan rumah (SR) dan Alat Pembatas &
Pengukur (APP), pegelolaan keuangan serta pengelolaan SDM dan administrasi, membina
hubungan kerja, kemitraan dan komunikasi yang efektif guna menjaga citra
perusahaan serta mewujudkan Good Coorporate Governance.
Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas,
Manajer Area Pelayanan dan Jaringan mempunyai fungsi:
a. Menyusun prakiraan kebutuhan
tenaga listrik
b. Menyusun dan menerapkan program
penjualan tenaga listrik
c. Memantau
perkembangan jumlah pelanggan dan jenis tariff
d. Menyusun program peningkatan
kualitas pelayanan pelanggan
e. Mengkoordinir dan mengendalikan pengoperasian
jaringan tegangan menengah (JTM) dan jaringan tegangan rendah (JTR), sambungan
rumah (SR) dan APP .
f. Melaksanakan kegiatan pengelolaan
PUKK
g. Menangani permasalahan hukum yang
terjadi di lingkungan area
h. Melaksanakan pengelolaan SDM, Keuangan
& Administrasi
i. Membuat evaluasi secara berkala
terhadap kegiatan pengelolaan Pemasaran, Niaga, Distribusi, Keuangan, SDM dan
Administrasi.
j. Melaporkan kegiatan yang
berhubungan dengan tugas pokok sesuai prosedur yang ditetapkan.
3.3.2 Asisten Manajer Pemasaran
& Niaga
Tugas
Pokok Asisten Manajer Pemasaran adalah:
Bertanggung jawab atas kajian penetapan harga listrik,
prakiraan kebutuhan tenaga listrik, usulan pengembangan produk dan jasa baru,
penyusunan potensi pasar, petunjuk pelaksanaan segmentasi pasar dan promosi,
peneraan, humas dan penyuluhan.
Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas,
Asisten Manajer Pemasaran mempunyai fungsi:
a. Memberi masukan untuk penetapan
harga listrik
b. Menyusun prakiraan kebutuhan
energi
c. Membuat usulan pengembangan
produk dan jasa baru
d. Melaksanakan riset pasar
e. Menyusun metoda dan petunjuk
pelaksanaan segmentasi pasar
f. Menyusun metoda dan petunjuk
pelaksanaan promosi
g. Mengelola peneraan dan pengujian
peralatan distribusi
h. Melaksanakan kegiatan kehumasan
dan penyuluhan ketenaga-listrikan dan prosedur pelayanan kepada pelanggan /
masyarakat
i. Membuat evaluasi triwulanan atas
kegiatan pemasaran dan rencana perbaikannya
3.3.3. Asisten Manajer Distribusi
Tugas
Pokok Asisten Manajer Distribusi adalah:
Bertanggung
jawab atas pelaksanaan pembuatan desain konstruksi, rencana, dan SOP untuk
operasi & pemeliharaan distribusi, perbekalan dan evaluasi pengelolaan
distribusi yang dikelola oleh unit-unit.
Untuk
melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas, Asisten Manajer
Distribusi mempunyai fungsi:
a. Membuat desain konstruksi
berdasarkan desain standar
b. Menyusun usulan pengembangan
distribusi
c. Membuat analisis kinerja jaringan
distribusi
d. Menyusun rencana operasi dan pemeliharaan
jaringan distribusi
e. Menyusun SOP pelaksanaan operasi
dan pemeliharaan jaringan distribusi
f. Membantu pelaksanaan PB dan PD
pada konsumen selektif
g. Melaksanakan pembangunan jaringan
distribusi dan sarana lainnya
h. Melaksanakan administrasi pembangunan
i. Melaksanakan tata laksana
perbekalan
j. Melakukan pemutakhiran peta
jaringan distribusi
k. Membuat evaluasi triwulanan atas
kegiatan operasi dan pemeliharaan distribusi serta rencana perbaikannya.
3.3.4. Asisten Manajer Keuangan
Tugas
Pokok Asisten Manajer Keuangan adalah:
Bertanggung
jawab atas penyusunan RKAP dan cash flow, melaksanakan pengelolaan pendanaan
dan arus kas secara akurat serta kegiatan perbekalan.
Untuk
melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas, Asisten Manajer Keuangan
mempunyai fungsi:
a. Menyusun RKAP area dan cash flow
b. Menyusun dan memantau anggaran
belanja dan pendapatan APJ, Unit Pelayanan (UP), Unit Jaringan (UJ) dan Unit
Pelayanan & Jaringan (UPJ)
c. Membuat laporan hasil penjualan
tenaga listrik dan pendapatan lainnya
d. Memonitor pengelolaan piutang
e. Melaksanakan dan mengkoordinir
pembiayaan operasi dan investasi
f. Membuat laporan keuangan secara
berkala
g. Membuat evaluasi triwulanan atas
kegiatan keuangan dan rencana perbaikannya
3.3.5 Asisten Manajer SDM dan
Administrasi
Tugas
Pokok Asisten Manajer SDM & Administrasi adalah:
Bertanggung
jawab atas pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan SDM, tata usaha
secretariat, rumah tangga, keamanan, keselamatan, dan kesehatan lingkungan
kerja dan kegiatan umum lainnya, pelaksanaan bidang kehumasan serta penanganan
masalah hokum.
Untuk
melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas, Asisten Manajer SDM dan
Administrasi mempunyai fungsi:
a. Menyusun dan mengusulkan Formasi
Tenaga Kerja (FTK)
b. Melaksanakan program pendidikan
& pelatihan pegawai
c. Melaksanakan pengembangan karier
pegawai
d. Melaksanakan updating data
pegawai
e. Melaksanakan penilaian kinerja
pegawai
f. Menyusun & mengusulkan mutasi
pegawai
g. Memproses pelanggaran disiplin
pegawai
h. Mengelola penyusunan anggaran
pegawai dan pembayaran penghasilan pegawai
i. Mengelola kesekretariatan dan
rumah tangga kantor
j. Melaksanakan pembinaan keamanan
dan K3
k. Membuat evaluasi triwulanan atas
kegiatan SDM dan administrasi serta rencana perbaikannya.
3.3.6 Asisten Manajer Perencanaan
Tugas
Pokok Asisten Manajer Perencanaan adalah:
Bertanggung
jawab atas pelaksanaan dan perencanaan suatu pembuatan desain konstruksi,
rencana, dan SOP untuk operasi & pemeliharaan distribusi, perbekalan dan evaluasi
pengelolaan distribusi yang dikelola oleh unit-unit juga hal yang terkait
dengan perencaan dan pengawasan untuk sistem pembayaran untuk pelanggan.
Untuk
melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas, Asisten Manajer
Perencanaan mempunyai fungsi:
a. Membentuk suatu sistem
perencanaan untuk pelanggan yang berkenaan dengan penghematan listrik.
b. Menyusun usulan pengembangan
distribusi.
c. Melaksanakan tata laksana
perbekalan
d. Membuat usulan pengembangan
produk dan jasa baru
e. Menyusun prakiraan kebutuhan
energy
f. Melakukan pemutakhiran peta
jaringan distribusi
g. Membuat evaluasi triwulanan atas
kegiatan Perencanaan serta rencana perbaikannya.
BAB IV
GAMBARAN UMUM SISTEM
KETENAGALISTRIKAN
DAN BISNIS PROSES SISTEM DISTRIBUSI
4.1. GAMBARAN UMUM
Energi listrik sebagai salah satu bentuk energi yang paling
efektif dan efisien, keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk
memenuhi kebutuhan tenaga listrik bagi para pelanggan, diperlukan berbagai
peralatan listrik. Peralatan tersebut dihubungkan satu sama lain sehingga
membentuk suatu sistem tenaga listrik.
Sistem tenaga listrik didefinisikan sebagai sekumpulan Pusat
Listrik dan Gardu Induk (Pusat Beban) yang satu sama laian saling terhubung
oleh Jaringan Transmisi sehingga merupakan sebuah kesatuan interkoneksi.
Masing-masing bagian mempunyai fungsi yang berbeda-beda, tetapi antar bagian
saling bekerja sama untuk melaksanakan suatu proses operasi sistem tenaga
listrik. Gambar 2.1 menunjukkan berbagai bagian dari sistem tenaga listrik dalam
skema garis tunggal.
Suatu sistem tenaga listrik pada
umumnya terdiri atas empat unsur yaitu, pembangkitan, transmisi, distribusi dan
pemakaian tenaga listrik. Pembangkitan tenaga listrik terdiri atas berbagai
jenis pusat tenaga listrik, seperti pusat listrik tenaga air (PLTA), pusat
listrik tenaga uap (PLTU), pusat listrik tenaga nuklir (PLTN), pusat listrik
tenaga gas (PLTG), dan pusat listrik tenaga diesel (PLTD). Letak pusat tenaga
listrik, dan hal ini terutama berlaku bagi pusat listrik tenaga air, sering
jauh dari pusat-pusat pemakaian tenaga listrik, seperti kota dan industri.
Dengan demikian, energi listrik yang dibangkitkan di pusat tenaga listrik,
sering harus disalurkan, atau ditransmisikan melalui jarak-jarak yang jauh ke
pusat-pusat pemakaian tenaga listrik. Tiba di kota, energi listrik itu harus
dibagikan atau didistribusikan kepada para pemakai atau pelanggan.
Salah satu
bagian dari proses sistem tenaga listrik adalah sistem distribusi, dimana
secara garis besar proses operasi sistem tenaga listrik dapat dibagi menjadi
tiga tahap, antara lain :
1. Proses
pembangkitan tenaga listrik ( PLTA, PLTU, PLTG, PLTD, PLTP, PLTN, dll ).
2. Proses
transmisi daya listrik dengan tegangan tinggi ( 30 kV, 70kV, 150 kV, 500 kV )
dari pusat-pusat pembangkit ke gardu-gardu induk.
3. Proses pendistribusian tenaga
listrik dengan tegangan menengah ( misalnya 6 kV, 12 kV atau 20 kV ) dan
tegangan rendah ( 110 V, 220 V dan 380 V ) dari gardu induk ke konsumen.
Pada suatu sistem yang cukup besar,
tegangan yang keluar dari generador harus dinaikkan dulu dari tegangan menengah
(tegangan generator) menjadi tegangan tinggi atau tegangan ekstra tinggi
(tegangan transmisi). Menyalurkan energi listrik melalui jarak-jarak yang jauh
harus dilakukan dengan tegangan yang tinggi untuk memperkecil kerugian-kerugian
yang terjadi, baik rugi-rugi energi maupun penurunan tegangan. Suatu sistem tenaga listrik harus
memenuhi syarat-syarat dasar seperti :
- setiap
saat memenuhi jumlah energi listrik yang diperlukan consumen sewaktu-waktu
- mempertahankan suatu tegangan yang tetap dan
tidak terlampau bervariasi, standar variasi tegangan Indonesia adalah -10%
sampai +5%.
- mempertahankan suatu frekuensi yang stabil dan
tidak bervariasi lebih dari misalnya ± 0,2 Hz
- menyediakan
energi listrik dengan harga yang wajar
- memenuhi standar-standar keamanan dan keselamatan
- tidak
mengganggu lingkungan hidup
Tegangan
generator yang biasanya berupa tegangan menengah (TM) di gardu induk (GI)
melalui transformator dinaikkan menjadi tegangan transmisi, berupa tegangan
tinggi (TT) atau tegangan ekstra tinggi (TET). Standar
tegangan menengah di indonesia adalah 20kV. 150kV sampai <500kv
style="">. Dan 500 kV untuk tegangan tegangan ekstra tinggi.
Standar ini mengikuti rekomendasi dari Internacional Electrotechnical
Commission (IEC). Standar tegangan menengah untuk distribusi adalah 20 kV.
Standar Tegangan Rendah di Indonesia adalah 230V / 400V.
Sebagaimana
terlihat pada gambar 4.1, pada pusat listrik tegangan generator dinaikkan di
gardu induk dari tegangan generator menjadi tegangan transmisi. Setibanya di
pinggir kota, tegangan transmisi diturunkan lagi menjadi tegangan menengah.
Gardu Induk
(GI)
Gardu induk adalah merupakan
instalasi yang sangat penting dalam pengoperasian sistem tenaga listrik. Gardu
induk pada prinsipnya adalah pusat penerimaan dan penyaluran tenaga listrik
pada tegangan yang berbeda. Gardu induk terdapat di seluruh sistem tenaga
listrik. Dimulai pada pusat tenaga listrik dengan mempergunakan transformator
daya, sebuah GI meningkatkan tenaga menengah yang dibangkitkan oleh generator
menjadi tegangan transmisi yang diperlukan. Mendekati tempat-tempat pemakaian
energi listrik, yaitu kota atau pemakai besar seperti industri, tegangan
transmisi diturunkan kembali menjadi tegangan menengah.
Sebuah gardu
induk pada umumnya terdiri atas peralatan utama berikut : transformator daya,
reaktor pembatas arus, pemutus daya, berbagai peralatan switching (switch
gear), pengamanan terhadap petir, dan peralatan pengukuran serta proteksi.
Secara umum
gardu induk dapat dibedakan dua macam, yaitu :
§ GI penaik tegangan
§ GI penurun tegangan
GI penaik tegangan berfungsi sebagai
pengumpul daya dan menyalurkannya melalui suatu tegangan tinggi. GI ini dapat
dibangun bersama-sama dengan pusat pembangkit. Sedangkan GI penurun tegangan
ditempatkan pada pusat beban yang disalurkan melalui distribusi primer, daya
disalurkan dengan tegangan yang lebih rendah daripada tegangan yang masuk.
Saluran
Transmisi
Energi listrik dibawa oleh
konduktor, yaitu melalui saluran transmisi dari pusat-pusat pembangkit tenaga
listrik kepada para pemakai. Agar penyediaan tenaga listrik dapat dilakukan
dengan baik, sistem tenaga listrik perlu memenuhi beberapa persyaratan dasar.
Diantaranya adalah sebagai berikut :
§ Menyediakan setiap saat, di tempat
yang diperlukan, daya dan energi sebanyak yang diinginkan yang diperlukan oleh
pelanggan.
§ Mempertahankan suatu tingkat
tegangan yang stabil, yang tidak boleh melebihi 5 persen dan kurang dari 10%
dari nilai nominal.
§ Memepertahankan suatu tingkat
tegangan yang stabil, yang tidak boleh berubah lebih dari ± 0,2 Hz.
§ Menyediakan energi listrik dengan harga
yang wajar.
§ Memenuhi standar keamanan dan
keandalan.
§ Tidak mengganggu lingkungan.
Desain saluran transmisi akan
tergantung dari beberapa hal seperti :
§ Jumlah daya yang harus
ditransmisikan.
§ Jarak dan jenis lapangan yang harus
ditransmisikan.
§ Biaya yang tersedia.
§ Pertimbangan-pertimbangan lain,
misalnya masalah-masalah urban dan kemungkinan pertumbuhan beban di waktu
mendatang.
Komponen-komponen utama saluran
transmisi adalah struktur pendukung, konduktor sebagai penghantar energi, dan
isolator. Struktur pendukung terdiri atas tiang atau menara listrik yang harus
memikul konduktor pada suatu tingkat ketinggian secara aman di atas tanah.
Untuk tegangan 70 kV ke bawah dapat dipergunakan struktur pendukung berbentuk
sederhana seperti tiang listrik, terbuat dari kayu, besi ataupun beton. Untuk
tegangan yang lebih tinggi, dan diperlukan struktur pendukung yang lebih
canggih, berupa menara listrik yang dapat terbuat dari besi ataupun beton.
Konduktor untuk saluran udara
tegangan tinggi terbanyak terdiri atas kawat alumunium diperkuat baja (Alumunium
Cable Steel Reinforced, ACSR), karena memiliki ciri-ciri ekonomi yang baik.
Isolator diperlukan untuk mengaitkan konduktor pada struktur pendukung secara
mekanikal yang kuat, dan sekaligus memisahkan secara elektrikal struktur
pendukung dari konduktor. Isolator terbanyak dibuat dari porselen, gelas,
ataupun bahan sintetik. Dari sudut listrik, isolator perlu memiliki resistansi
yang tinggi. Dilihat dari segi bentuk dan pemasangan, terdapat dua jenis isolator,
yaitu isolator tumpu (pintype insulator) dan isolator gantung (suspension
type insulator).
Distribusi
Daya
Listrik
merupakan bentuk energi yang paling cocok dan nyaman bagi manusia modern. Tanpa
listrik infra-struktur masyarakat sekarang tidak menyenangkan. Makin
bertambahnya konsumsi listrik per kapita di seluruh dunia menunjukkan kenaikan
standar kehidupan manusia. Pemanfaatan secara optimum bentuk
energi ini oleh masyarakat dapat dibantu dengan sistem distribusi yang efektif.
Klasifikasi Jaringan Distribusi Tegangan Menengah
Sistem distribusi tenaga listrik didefinisikan sebagai
bagian dari sistem tenaga listrik yang menghubungkan gardu induk/pusat
pembangkit listrik dengan konsumen. Sedangkan jaringan distribusi adalah sarana
dari sistem distribusi tenaga listrik di dalam menyalurkan energi ke konsumen.
Dalam menyalurkan tenaga listrik ke pusat beban, suatu
sistem distribusi harus disesuaikan dengan kondisi setempat dengan
memperhatikan faktor beban, lokasi beban, perkembangan di masa mendatang, keandalan
serta nilai ekonomisnya.
A.
Berdasarkan Tegangan Pengenal
Berdasarkan
tegangan pengenalnya sistem jaringan distribusi dibedakan menjadi dua macam,
yaitu :
a. Sistem jaringan tegangan primer
atau Jaringan Tegangan Menengah (JTM), yaitu berupa Saluran Kabel Tegangan
Menengah (SKTM) atau Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM). Jaringan ini
menghubungkan sisi sekunder trafo daya di Gardu Induk menuju ke Gardu
Distribusi, besar tegangan yang disalurkan adalah 6 kV, 12 kV atau 20 kV, namun
sekarang yang banyak dikembangkan oleh PLN adalah tegangan 20 kV.
b. Jaringan tegangan distribusi
sekunder atau Jaringann Tegangan Rendah (JTR), salurannya bisa berupa SKTM atau
SUTM yang mengubungkan Gardu Distribusi/sisi sekunder trafo distribusi ke
konsumen. Tegangan sistem yang digunakan adalah 110 Volt, 220 Volt dan 380
Volt.
B. Berdasarkan Konfigurasi Jaringan
Primer
Konfigurasi jaringan distribusi primer pada suatu sistem
jaringan distribusi sangat menentukan mutu pelayanan yang akan diperoleh
khususnya mengenai kontinyuitas pelayanannya. Ada pun jenis jaringan primer yang biasa digunakan adalah:
a. Jaringan distribusi pola radial
b. Jaringan distribusi pola loop
c. Jaringan distribusi pola grid
d. Jaringan distribusi pola spindle
a. Jaringan Distribusi Pola Radial.
Pola radial adalah jaringan yang setiap saluran primernya
hanya mampu menyalurkan daya dalam satu arah aliran daya. Jaringan ini biasa
dipakai untuk melayani daerah dengan tingkat kerapatan beban yang rendah.
Keuntungannya ada pada kesederhanaan dari segi teknis dan
biaya investasi yang rendah. Adapun kerugiannya apabila terjadi gangguan dekat
dengan sumber, maka semua beban saluran tersebut akan ikut padam sampai
gangguan tersebut dapat diatasi.
Gambar 4.2. Pola jaringan radial
b. Pola Jaringan Distribusi Loop
Jaringan pola loop adalah jaringan yang dimulai dari suatu
titik pada rel daya yang berkeliling di daerah beban kemudian kembali ke titik
rel daya semula. Gambar (2.5) menunjukan suatu bentuk jaringan distribusi tipe
loop.
Pola ini ditandai pula dengan adanya dua sumber pengisian
yaitu sumber utama dan sebuah sumber cadangan. jika salah satu sumber pengisian
(saluran utama) mengalami gangguan, akan dapat digantikan oleh sumber pengisian
yang lain (saluran cadangan). Jaringan dengan pola ini biasa dipakai pada
sistem distribusi yang melayani beban dengan kebutuhan kontinyuitas pelayanan
yang baik (lebih baik dari pola radial).
Gambar 4.3. Pola Jaringan Loop
c. Jaringan Distribusi Pola Grid
Pola
jaringan ini mempunyai beberapa rel daya dan antara rel-rel tersebut
dihubungkan oleh saluran penghubung yang disebut tie feeder. Dengan
demikian setiap gardu distribusi dapat menerima atau mengirim daya dari atau ke
rel lain. Pola jaringan grid ditunjukan pada (Gambar 2.6)
Gambar 4.4 Pola Jaringan Grid
Keuntungan
dari jenis jaringan ini adalah:
q Kontinuitas pelayanan lebih baik dari
pola radial atau loop.
q Fleksibel dalam menghadapi
perkembangan beban.
q Sesuai untuk daerah dengan kerapatan
beban yang tinggi.
Adapun
kerugiannya terletak pada sistem proteksi yang rumit dan mahal dan biaya
investasi yang juga mahal.
d. Jaringan Distribusi Pola Spindel
Jaringan
primer pola spindel merupakan pengembangan dari poal radial dan loop terpisah.
Beberapa saluran yang keluar dari gardu induk diarahkan menuju suatu tempat
yang disebut gardu hubung (GH), kemudian antara GI dan GH tersebut dihubungkan
dengan satu saluran yang disebut express feeder
.
Sistem
gardu distribusi ini terdapat di sepanjang saluran kerja dan terhubung secara
seri. Saluran kerja yang masuk ke gardu dihubungkan oleh saklar pemisah,
sedangkan saluran yang keluar dari gardu dihubungkan oleh sebuah saklar beban.
Jadi
sistem ini dalam keadaan normal bekerja secara radial dan dalam keadaan darurat
bekerja secara loop melalui saluran cadangan dan GH.
Gambar
4.5 Sistem Jaringan Spindel
Keuntungan
pola jaringan ini adalah :
Sederhana dalam hal teknis pengoperasiannya seperti pola
radial.
Kontinuitas
pelayanan lebih baik dari pada pola radial maupun loop.
q Pengecekan beban masing-masing
saluran lebih mudah dibandingkan dengan pola grid.
q Penentuan bagian jaringan yang
teganggu akan lebih mudah dibandingkan dengan pola grid. Dengan demikian pola
proteksinya akan lebih mudah.
q Baik untuk dipakai di daerah perkotaan
dengan kerapatan beban yang tinggi.
4.2. BISNIS PROSES DALAM DISTRIBUSI
4.2.1. Bisnis Proses Dalam Bagian Kerja Distribusi
Bisnis
proses yang ada dalam distribusi di PLN terdiri dari 3 kegiatan yaitu:
4.2.1.1. Pengoperasian Sistem
Pengoperasian sistem yang ada di PLN APJ Semarang adalah
penyaluran tenaga listrik melalui jaringan transmisi 150 KV dengan gardu induk
yang tersebar di berbagai kota. Dari Gardu Induk ini tegangan diturunkan
menjadi 22 KV untuk disalurkan ke konsumen yang dalam hal ini menjadi wewenang
PT. PLN ( persero ) Distribusi.
Gardu Induk 150 KV yang termasuk dalam suplai penyaluran
yang melayani APJ Salatiga meliputi :
a. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Selatan
b. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Barat
c. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Tangah
d. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Semarang Timur
e. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Kendal
f. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Demak
g.
PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Purwodadi
h.
PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Tegowanu
i.
PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Weleri
j. PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan
Boja
4.2.1.2. Perencanaan Sistem
Selain
Pengoperasian jarak dekat, saat ini PLN juga bisa mengoperasikan peralatannya
dengan jarak jauh yaitu dengan menggunakan SCADA. SCADA itu dipasang pada GI
yang ada dalam wilayah kerja APJ Semarang yang kemudian dioperasikan, dikontrol
dan dipantau lewat APJ Semarang dan UPJ - UPJ seperti yang telah disebutkan
diatas. Namun Pengoperasian tanpa SCADA juga masih diperlukan karena tidak
setiap peralatan dioperasikan dengan menggunakan SCADA.
4.2.1.3.Pemeliharaan Sistem
Sistem yang dipelihara oleh PLN adalah system peralatan
listrik dari gardu induk sampai ke konsumen.. Dalam system
transmisi tenaga listrik digunakan sistem tegangan tinggi. Pada umumnya
transmisi dengan menggunakan saluran udara ( Over Head Line ) lebih
banyak digunakan daripada pemakaian kabel tanah. Keuntungan penggunaan sistem
saluran udara dalam trasmisi adalah :
a. Bahan
isolasi dipakai relatif sederhana.
b.
Gangguan-gangguan yang terjadi dapat diatasi dengan cepat.
c. Biaya
jauh lebih murah.
Pada umumnya
transmisi tenaga listrik dari pusat pembangkit hingga ke konsumen melalui
beberapa urutan sebagai berikut :
1. Pusat Tenaga listrik ( Power
Station )
Yaitu tempat
dimana terdapat mesin-mesin pembangkit energi listrik.
2. Gardu Induk Penaik Tegangan ( Step-Up
Transformator Substation )
Merupakan tempat dimana tegangan
output dari generator dinaikkan menjadi tegangan tertentu. Biasanya terletak
dekat dengan pusat tenaga listrik.
3. Saluran tegangan Tinggi ( Trasmision
)
Berfungsi menyalurkan tenaga listrik
dari pusat tenaga listrik sampai ke pusat-pusat pemakai. Biasanya terletak di
kota-kota yang berjarak puluhan sampai ratusan kilometer.
4. Gardu Induk Penurun Tegangan ( Step-Down
Tranformator Substation )
Yaitu tempat
Penurun Tegangan tinggi menjadi tegangan menengah. Biasanya berlokasi dipinggiran kota.
5. Gardu Induk ( Switching
Substation )
Merupakan tempat-tempat
pendistribusian tenaga listrik melalui kabel tanah atau saluran udara ke
gardu-gardu distribusi.
6. Hantaran Distribusi Primer /
Jaringan Tegangan Menengah ( Feeder )
Merupakan suatu jaringan listrik
bertegangan menengah dengan system kabel tanah atau saluran udara yang
menghubungkan gardu hubung ke gardu distribusi atau dari Gardu Induk ke Gardu
Distribusi.
7. Gardu Distribusi
Yaitu tempat dimana terdapat
transformator penurun tegangan menengah menjadi tegangan rendah.
8. Hantaran distribusi Sekuinder /
Jaringan Tegangan Rendah
Yaitu jaringan listrik bertegangan
rendah berupa kabel tanah atau saluran udara yang menghubungkan Gardu
Distribusi dengan konsumen.
Gambar
4.6. Gambar Rangkaian Pengaman di Gardu Induk Distribusi – Konsumen
Keterangan :
a. PMT
Setting system PMT ada 2 ( Dua )
yaitu :
· On Reclosing : Apabila ada gangguan
sesaat ( tidak permanent ), apabila itu masih dua kali trip ( jatuh ) maka
secara otomatis akan langsung masuk ( beroperasi )kembali. Namun, jika sudah
yang ketiga kali , maka langsung lock out.
· Off Reclosing : Apabila ada gangguan
permanent atau tidak permanent, satu kali trip ( jatuh ) maka langsung lock
out.
Pengaman pada PMT ada 3 :
· GVR ( Ground Voltage Relay )
· OCR ( Over Current Relay )
· UFR ( Under Frequency )
b. ABSW ( Air Break Switch )
ABSW adalah alat pemutus tegangan udara, biasanya terletak
pada tiang-tiang transmisi. Bentuknya seperti pisau yang fungsinya sebagai
saklar yang bisa membuka dan menutup ( On / Off )
c. FCO ( Fuse Cut Out )
Fuse Cut Out adalah peralatan
pengaman pada PLN yang apabila tidak ada gangguan, Ia bersifat sebagai
konduiktor. Biasanya FCO ini dipasang pada percabangan-percabangan jaringan.
Pengaman pada FCO adalah fuse link. Fuse link ini menggunakan kawat nikelin
yang akan putus apabila mencapai panas tertentu.
Gambar rangkaian FCO :
Gambar
4.7 FCO
Pemasangan fuse link FCO pada feeder
dari GI ( Gardu Induk ) sampai ABSW 1 hanya untuk beban sampai 100 A diatas itu
akan menyebabkan PMT pada GI yang bekerja apabila terjadi kerusakan atau
gangguan pada jaringan.
Pemasangan
ampere pada fuse link juga harus diperhatikan :
Contoh perhitungannya:
Misal
untuk trafo 50 KVA, maka :
Apabila
FCO itu dipasang pada percabangan dengan banyak trafo maka FCO yang harus
dipasang merupakan total dari trafo
Misal
: Setelah percabangan itu terdapat 10 trafo 50 KVA maka FCO yang dipasang
adalah
Apabila
Disconnecting Switch, dipasang pada percabangan 3 phasa pada konsumen besar.
Pada dasarnya sama fungsinya dengan ABSW tapi ada time switchnya
d. Recloser
Recloser dipasang pada jaringan 3
phasa utama
Fungsi peralatan pengaman recloser :
· Memperkecil daerah padam
· Mempermudah mencari lokasi gangguan
Apabila
terkena gangguan, recloser akan jatuh dan bila dalam 2 detik pemadaman tidak
ada gangguan lagi, maka secara otomatis recloser akan masuk kembali ( menyala
kembali ). Apabila recloser jatuh sampai 3 kali maka berarti ada
gangguan permanent.
Contoh
misalnya :
· Kawat
jaringan putus
· Relaynya
Ground Voltage
Recloser
dipasang minimal tiap 8 Km dari tiap feeder. Recloser ini selalu dalam keadaan
on reclosing ( bisa dioperasikan dalam keadaan ber beban ). Biasanya recloser
ini dipasang di pedesaan yang sulit atau jauh dijangkau oleh petugas. Karena
system kerjanya memudahkan jika suatu saat terjadi gangguan seasaat sehingga
petugas tidak perlu harus repot-repot datang jika gangguannya ringan.
e.
Secsionalizer
Fungsinya
pada dasarnya hampir sama dengan recloser karena memperkecil daerah padam,
hanya saja dengan secsionalizer maka daerah yang dipadamkan bisa menjadi
semakin kecil lagi dan semakin memudahkan dalam mencari daerah yang terkena
gangguan. Sistem kerja dari secsionalizer harus dioperasikan dalam keadaan tak
berbeban ( Off Reclosing )
Dari
kesimpulan diatas, maka peralatan di PLN dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan
operasinya :
a) On Load Operation
Bisa Dioperasikan dalam keadaan
berbeban
Contoh = PMT, Recloser, FCO
b) No Load Operation
Tidak bisa dioperasikan apabila
dalam keadaan berbeban
Contoh = Secsionalizer,
Disconnecting Switch
BAB V
OPERASI SISTEM
5.1. Pendahuluan
Dari
hirarkinya, jaringan distribusi berada di rangkaian terakhir dari sistem
jaringan listrik yang besar sekali, dan peranannya adalah mendistribusikan
tenaga listrik pada konsumen. Dapat dimengerti bahwa pada jaringan distribusi
khususnya terjadi titik pertemuan antara dua kepentingan dengan
persyaratan-persyaratannya masing-masing. Pihak konsumen membutuhkan listrik
dengan mutu penyaluran yang baik, sedang perusahaan listrik dihadapkan kepada
masalah kesanggupan jaringannya sendiri
Tetapi
yang jelas sebenarnya kedua macam kepentingan itu tidaklah bertentangan,
malahan mempunyai tujuan yang sama. Bagi konsumen mutu penyaluran yang baik
akan memberikan kepuasan manusiawi, sedang bagi perusahaan listrik
mempertahankan mutu penyaluran berarti menekan kerugian-kerugian jaringan
sehingga jaringan akan beroperasi secara efisien.
Suatu
jaringan dinyatakan sebagai jaringan yang baik apabila ia memenuhi kriteria
tertentu dalam :
l Kelangsungan penyaluran, serta
l Tegangan dan frekuensi
Untuk
sampai kepada tujuan tersebut perlu dikenal dengan baik jaringan distribusi
secara fungsional, pada keadaan normal maupun keadaan gangguan. Pada keadaan
normal masalah yang harus dipecahkan antara lain misalnya faktor daya yang
rendah dan penurunan tegangan jaringan secara berlebihan. Sedang pada keadaan
gangguan masalahnya adalah pengalihan beban yang mengalami pemadaman ke
sumber-sumber yang dicadangkan. Gangguan itu sendiri sedapat mungkin dicegah
terjadinya, atau apabila tetap terjadi maka ia harus dihilangkan dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya.
Gangguan
sangat erat hubungannya dengan masalah pemeliharaan. Gangguan dianalisa dan
dijabarkan untuk menetapkan langkah dan kebijaksanaan pemeliharaan, yang tidak
lain dalam tujuannya memperoleh jaminan operasi jaringan yang stabil. Dapat
disimpulkan bahwa banyaknya gangguan yang terjadi untuk sebagainya disebabkan
karena kurang baiknya pemeliharaan.
Bidang
tugas operasi dan pemeliharaan merupakan sistem teknik yang berdampingan.
Lingkup pekerjaannya semakin luas dengan berkembangnya teknologi, khususnya
dalam menunjang peningkatan keandalan jaringan. Operasi jaringan distribusi
menyangkut segala macam masalah pengawasan, pengontrolan, pencatatan dan
penyetelan kondisi semua peralatan, termasuk melakukan tindakan-tindakan selama
keadaan darurat karena gangguan.
Untuk
memungkinkan tercapainya tujuan operasi, disyaratkan faktor-faktor sebagai
berikut :
l Pengenalan yang baik atas jaringan
distribusi, termasuk kondisinya
l Penyusunan pedoman operasi yang
mencakup tujuan, aturan, tugas, aturan pelengkap, dan gambar / tabel / formulir
l Organisasi pelaksanaan
Prosedur
Pengoperasian Normal / Gangguan Secara Umum
Yang
dimaksud dengan prosedur operasi pengaturan dan pengusahaan jaringan tegangan
menengah diseluruh unit kerja PLN, dalam usaha menjamin kelangsungan penyaluran
tenaga listrik, mempercepat penyelesaian gangguan-gangguan yang timbul, serta
dilain pihak menjaga keselamatan baik petugas pelaksana operasi maupun
instalasinya sendiri.
Pengoperasian Jaringan Tegangan Menengah ( 6 dan 20 KV )
tersebut dilaksanakan dengan :
a. Memanuver
atau memanipulasi jaringan, dengan tele kontrol maupun di lapangan.
b. Menerima
informasi-informasi mengenai keadaan jaringan dan kemudian membuat penilaian (
observasi ) seperlunya guna menetapkan tindak lanjutan.
c. Menerima besaran-besaran
pengukuran pada jaringan dan kemudian membuat penilaian ( observasi )
seperlunya guna menetapkan tindak lanjutan.
d. Mengkoordinasikan pelaksanaanya
dengan pihak-pihak lainyang bersangkutan.
e. Mengawasi jaringan secara
terus-menerus dan tidak terputus-putus.
f. Mengusut dan melokalisasikan
gangguan jaringan.
g. Mendeteksi gangguan jaringa
sehingga sehingga titik gangguannya dapat diketemukan untuk diperbaiki
5.2. Operasi Jaringan Tegangan
Menengah Di Gardu Induk
5.2.1.
Keadaan normal
¦ Pada pelaksanaan pemasukkan /
pengeluaran PMT-PMT penghantar: 150KV, kopel 150 dan 70KV dan trafo 150 dan
70KV yang dilaksanakan oleh area/ pengatur beban/ piket pengawas secara remote
control ( RC ) maupun oleh operator gardu induk ( GI ) pusat listrik tenaga (
PLT ) apabila RC gagal atau pada GI/ PLT yang tidak dilengkapi fasilitas RC,
sepanjang hal tersebut mempengaruhi penyaluran kepada konsumen maka:
a. Area berkonsultasi dengan
pengatur beban
b. Pengatur beban memutuskan sendiri
c. Piket pengawas berkonsultasi
dengan piket pimpinan.
¦ Posisi normal PMT 20 KV, trafo TT
/ TM adalah dalam keadaan masuk
¦ Posisi normal semua feeder TM 20
KV dari GI adalah dalam keadaan masuk
¦ Pengatur
distribusi atau piket cabang melakukan pencatatan data-data operasional yang
diperlukan atas GI/ PLT. Dapat
langsung dilakukan pencatatan dari display, apabila hal tersebut dimungkinkan
oleh adanya fasilitas tele processing.
¦ Pusat pengaturan distribusi
menerima pemberitahuan mengenai perubahan keadaan jaringan di GI dari Area,
Pengatur Beban, Piket Pengawas. Dapat melalui printer dan display apabila
tersedia fasilitas tele processing.
Pemasukkan
/ pengeluaran PMT feeder TM yang belum atau tidak dilengkapi dengan fasilitas
RC dilaksanakan oleh operator GI/ PLT atas permintaan dari pusat pengaturan
distribusi. Namun bagi yang sudah dilengkapi dengan fasilitas RC, pemasukkan/
pengeluaran PMT dilaksanakan oleh pusat pengaturan distribusi. Apabila RC gagal,
pemasukkan/ pengeluaran PMT-PMT tersebut dilaksanakan oleh operator GI/ PLT
atas permintaan pusat pengaturan distribusi.
¦ Pemasukkan /
pengeluaran PMT feeder TM yang belum atau tidak dilengkapi dengan fasilitas RC
dilaksanakan oleh operator GI/ PLT atas permintaan dari pusat pengaturan
distribusi. Namun bagi yang sudah dilengkapi dengan fasilitas RC, pemasukkan/
pengeluaran PMT dilaksanakan oleh pusat pengaturan distribusi dengan
sepengetahuan operator GI/ PLT. Apabila RC gagal, pemasukkan/ pengeluaran PMT-PMT tersebut
dilaksanakan oleh operator GI/ PLT atas permintaan pusat pengaturan distribusi.
¦ Pemasukkan / pengeluaran PMT-PMT
TM dari trafo TT/ TM yang belum atau tidak dilengkapi dengan fasilitas RC
dilaksanakan oleh operator GI/ PLT atas permintaan dari pusat pengaturan
distribusi setelah berkonsultasi dengan AREA. Namun bagi yang sudah dilengkapi
dengan fasilitas RC, pemasukkan/ pengeluaran PMT dilaksanakan oleh pusat
pengaturan distribusi dengan sepengetahuan operator GI/ PLT dan setelah berkonsultasi
dengan AREA. Apabila RC gagal, pemasukkan/ pengeluaran PMT-PMT tersebut
dilaksanakan oleh operator GI/ PLT atas permintaan pusat pengaturan distribusi
setelah berkonsultasi dengan AREA.
¦ Operator GI/ PLT wajib dan
bertanggung jawab untuk melaporkan semua pelaksanaan permintaan pengaturan
jaringan kepada pusat pengaturan distribusi tersebut diatas.
5.2.3. Keadaan Gangguan
¦ Pusat pengaturan distribusi
menerima pemberitahuan mengenai keadaan gangguan di GI dari AREA , apabila
tidak tersedia fasilitas tele processing. Namun isyarat pemberitahuan ( alarm )
bisa juga diterima melalui printer dan display, apabila terdapat fasilitas tele
processing. Apabila fasilitas tele processing gagal, maka yang berlaku
pemberitahuan dari AREA.
¦ Pengeluaran PMT-PMT TM trafo yang
belum atau tidak dilengkapi dengan fasilitas RC dilaksanakan oleh operator GI/
PLT. Namun bagi yang sudah dilengkapi dengan fasilitas RC, pengeluaran PMT
dilaksanakan oleh pusat pengaturan distribusi denga sepengetahuan operator GI/
PLT. Apabila RC gagal, pengeluaran PMT-PMT tersebut dilaksanakan oleh operator
GI/ PLT atas permintaan pusat pengaturan distribusi.
¦ PMT TM feeder khusus tidak
dikeluarkan pada keadaan gangguan total.
¦ Pengeluaran PMT feeder TM yang
tidak atau belum dilengkapi dengan fasilitas RC dilaksanakan oleh operator GI/
PLT. Namun bagi yang sudah dilengkapi dengan fasilitas RC, pengeluaran PMT
dilaksanakan oleh pusat pengaturan distribusi denga sepengetahuan operator GI/
PLT. Apabila RC gagal, pengeluaran PMT-PMT tersebut dilaksanakan oleh operator
GI/ PLT atas permintaan pusat pengaturan distribusi.
¦ Pemasukkan PMT feeder TM yang
belum atau tidak dilengkapi dengan fasilitas RC dilaksanakan oleh operator GI/
PLT atas permintaan dari pusat pengaturan distribusi. Namun bagi yang sudah
dilengkapi dengan fasilitas RC, pemasukkan PMT dilaksanakan oleh pusat
pengaturan distribusi dengan sepengetahuan operator GI/ PLT. Apabila RC gagal,
pemasukkan/ pengeluaran PMT-PMT tersebut dilaksanakan oleh operator GI/ PLT
atas permintaan pusat pengaturan distribusi.
¦ Pemasukkan PMT-PMT TM dari trafo
yang belum atau tidak dilengkapi dengan fasilitas RC dilaksanakan oleh operator
GI/ PLT atas permintaan dari pusat pengaturan distribusi setelah berkonsultasi
dengan AREA. Namun bagi yang sudah dilengkapi dengan fasilitas RC, pemasukkan
PMT dilaksanakan oleh pusat pengaturan distribusi dengan sepengetahuan operator
GI/ PLT dan setelah berkonsultasi dengan AREA. Apabila RC gagal, pemasukkan/
pengeluaran PMT-PMT tersebut dilaksanakan oleh operator GI/ PLT atas permintaan
pusat pengaturan distribusi setelah berkonsultasi dengan AREA.
¦ Operator GI/
PLT wajib dan bertanggung jawab untuk melaporkan semua pelaksanaan dari
permintaan pengaturan jaringan kepada pusat pengaturan distribusi tersebut
diatas.
5.3. Pemeliharaan
5.3.1. PMT
penyulang distribusi di Gardu Induk yang dilengkapi Auto Recloser dengan sistem
radial
Apabila ada rencana
pekerjaan pemeliharaan yang memerlukan pemadaman penyulang, maka piket
distribusi mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
a. Memastikan ke piket cabang yang
bersangkutan apakah sudah siap untuk pemadaman
b. Meminta ke Gardu Induk untuk
melepas Pmt dan Pms penyulang yang bersangkutan
c. Memastikan atau memberitahu gardu
induk agar proses reclosing tidak terjadi
d. Memerintahkan ke piket cabang
untuk memasang peralatan grounding pada jaringan dari kedua sisi setelah di
check terlebih dahulu dengan voltage detector
Setelah cabang menyelesaikan
pekerjaan atau pemeliharaan terhadap jaringan yang bersangkutan dengan hasil
baik, maka penormalannya sebagai berikut :
a. Melepas peralatan grounding pada
jariongan
b. Melaporkan ke piket distribusi
bahwa pekerjaan atau pemeliharaan telah selesai, petugas cukup aman dan
penyulang siap dimasukkan kembali
c. Piket distribusi meminta ke gardu
induk untuk memasukkan kembali Pms dan Pmt penyulang tersebut diatas.
Manuver
jaringan : Suatu kegiatan modifikasi jaringan sehingga akan tercapai kondisi
penyaluran yang tetap stabil
Macam
Konfigurasi Jaringan
a. Radial = keandalan rendah, losser
besar, pengoperasian mudah, biaya sistem rendah. Jika padam tidak bisa disuplay
dari yang lain.
b. Loop = kondisinya melingkar dan
bisa saling berhubungann, keandalan tinggi, losser kecil, pengoperasian sulit,
biaya sisitem tinggi
c. Spindel = Gabungan antara sistem
radial dan loop
5.4. Optimalisasi Tegangan Pelayanan
Untuk Penigkatan Umur Operasi Trafo Distribusi, Kinerja Losses dan Harga Jual
kWh
5.4.1. Pengertian
Optimalisasi
tegangan pelayanan adalah optimalisasi yang memanfaatkan dampak ganda / kuadrat
perubahan tegangan pelayanan terhadap konsumsi energi suatu beban. Dengan
memanfaatkan range pada standar tegangan pelayanan, maka konsumsi energi suatu
beban dapat dinaikkan atau diturunkan secara signifikan, dengan perubahan yang
kecil pada tegangan suplai.
Pada
trafo overload yang memerlukan waktu untuk penyesuaian kapasitas gardu,
optimalisasi tegangan adalah alternatif penanganan sementara yang termurah dan
instan untuk menghindari kerusakan trafo.
Pengaturan
tegangan pelayanan juga dapat meningkatkan pendapatan / keuntungan dengan
memanfaatkan celah pada segmen-segmen tarif listrik dan kecenderungan
prosentase beban segmen tarif tertentu terhadap standarisasi kapasitas trafo
distribusi. Dalam hal ini golongan beban yang bertarif tinggi dioptimalisasi
sehingga meningkatkan harga jual rata-rata Kwh
Demikian
juga dengan kinerja loses, yakni dengan memanfaatkan celah pada komposisi loses
terhadap suatu golongan beban.
5.4.2.. Pembahasan
A.
Optimalisasi Tegangan untuk Memperbesar / Memperkecil Beban
Optimalisasi
tegangan pelayanan didasarkan atassamaan umum untuk pemakaian energi listrik,
yaitu :
P = energi
(kwh)
V =
tegangan (volt)
Z =
impedansi beban (ohm)
T = waktu
(jam)
Cos f = faktor beban
Dengan
memperhatikan persamaan untuk kapasitas :
VA = V . I*
VA = daya kompleks
I* = Arus beban konjugat
Dari kedua
persamaan diatas, dapat dilihat bahwa pemakaian energi adalah berbanding
pangkat dua terhadap besar tegangan pelayanan, sedangkan kapasitas daya adalah
perkalian dari besar tegangan dan arus yang dialirkan.
Prosentase maksimum perubahan konsumsi
daya suatu beban yang dioptimalisasi dalam range tegangan standar pelayanan
(198 – 231 volt) adalah sekitar 36,11 % dengan perhitungan sebagai berikut :
Dengan kata lain konsumsi energi suatu
beban yang dilayani dengan tegangan standar minimal dapat dinaikkan sebesar
36,11% jika dioptimalisasi ke tegangan standar maksimal, demikian juga
sebaliknya.
B. Optimalisasi Tegangan untuk
Memperbesar / Memperkecil Beban Trafo Distribusi
Apabila tujuan optimalisasi adalah untuk peningkatan
penjualan energi listrik, maka beban gardu dapat diperbesar dengan menaikkan
tegangan pelayanan pada tap changer. Sedangkan apabila diinginkan mengurangi
beban trafo karena overload, maka tegangan pelayanan diturunkan.
Sehingga dari sudut pandang loses distribusi, beban dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Beban Penyulang Losses Kecil
- Konsumen TM dengan prosentase
loses sekitar 2 %, dimana tidak terdapat komponen loses gardu dan JTR.
- Konsumen TR daya besar dengan Kwh
Meter terletak di gardu distribusi. Prosentase loses 4 % yaitu tidak terdapat
komponen loses JTR / SR.
2. Beban Penyulang losses Tinggi
- Konsumen TR daya besar dengan Kwh
Meter terletak di persil konsumen. Prosentase loses 9 % dimana terdapat semua
komponen losses baik JTM, Gardu dan JTR / SR.
- Konsumen TM umum biasa dengan Kwh
Meter terletak di persil pelanggan. Prosentase loses sekitar 9 %, dimana
terdapat semua komponen loses baik JTM, Gardu dan JTR/SR.
Dengan
memperhatikan pengelompokkan beban diatas, maka kinerja losses dapat
ditingkatkan dengan optimalisasi maksimum tegangan pada beban losses rendah dan
optimalisasi minimum pada beban loses tinggi. Sehingga pemakaian Kwh meningkat
pada beban yang losesnya kecil, dan menurun pada beban yang losesnya besar.
Dengan demikian loses secara komulatif akan menurun.
Berdasarkan
kontribusi losses dan prosentase konsumsi energi, peluang keuntungan
optimalisasi sangat besar pada golongan tariff rumah tangga dan social. Namun
sebaiknya tidak dilaksanakan karena adanya SR – SR deret dimana resiko under
standar tegangan akan terjadi.
Prinsip optimalisasi dapat juga dietrapkan pada penyambungan
baru / tambah daya, yaitu dengan seoptimal mungkin mengupayakan penempatan
kwhmeter di gardu distribusi.
Contoh
kasus :
v Suatu gardu distribusi tegangan
215,13 V yang melayani beban daya besar TR dengan kwh meter terletak di gardu.
Apabila dioptimalisasi ke tegangan 231 V, maka diperoleh peningkatan penjualan
kwh sebesar 15,3 %.
v Apabila gangguan tersebut melayani
pelanggan TR umum / biasa dengan kwh meter terletak di rumah pelanggan. Jika
tegangan dioptimalisasi ke 198 V, maka pengurangan penjualan kwh adalah 15,3%.
v Dari pengelompokkan beban
berdasarkan loses diatas, maka loses kumulatif untuk kedua contoh tersebut
sebelum dioptimalisasi adalah sebesar 6,5 %. Sedangkan apabila dilaksanakan
optimalisasi, maka loses menjadi 6,1 % atau tutun sebesar 0,4 % dengan jumlah
konsumsi kwh sama.
Secara umum, optimalisasi tegangan dengan tujuan memperbaiki
kinerja loses pada gardu pelayanan umum dilaksanakan dengan optimalisasi
tegangan maksimal apabila prosentase beban losses rendah lebih besar dari 50%
bebn gardu.
C. Optimalisasi Tegangan Untuk
Peningkatan Harga Jual Rata-Rata.
Secara umum, beban berdasarkan harga jual tiap kwh dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Beban Tarif Tinggi
Yaitu beban dengan harga beli keh yang lebih tinggi dari
harga jual rat-rat. Biasanya adalah beban tarif Bisnis, Industri dan Publik.
2. Beban Tarif Rendah
Yaitu beban dengan harga beli kwh lebih rendah dari harga
jual rata-rata. Biasanya adalah beban tariff rumah tangga dan sosial.
Peningkatan
rupiah jual kwh rata-rata dapat dilaksanakan dengan optimalisasi maksismum
tegangan pada beban tarif jual tinggi. Sedangkan beban tarif rendah
dioptimalisasi minimal atau tidak dioptimalisasi. Dengan demikian pemkaian kwh
mengingkat pada beban yang tarifnya tinggi, dan menurun atau tetap pada beban
yang tarifnya murah. Sehingga harga jual rata-rata secara kumulatif akan
meningkat.
Contoh
Kasus :
- Untuk suatu pelanggan tarif bisnis
yang dilayani dengan tegangan 215,13 V. Apabila dioptimalisasi ke tegangan 231
V, maka diperoleh peningkatan penjualan Kwh adalah 15,3 %.
- Sedangkan apabila pelanggan
tersebut adalah tarif sosial. Apabila dioptimalisasi ke tegangan 198 V, maka
pengurangan penjualan kwh adalah 15,3%.
- Apabila harga rata-rata tiap kwh
tarif bisnis adalah Rp. 419,50 / kwh dan tarif sosial Rp. 237,00 / kwh, maka
harga jual rata-rata tiap kwh untuk kumulatif kedua pelnggan di atas sebelum
dilakukan optimalisasi adalah Rp. 328,25 / kwh.
- Apabila dilakukan optimalisasi
tegangan, maka untuk jumlah kwh yang sama, harga jual rata-rata kumulatif menjadi
Rp. 342,21 atau meningkat sebesar Rp. 13,96 per kwh.
Secara umum, optimalisasi tegangan dengan tujuan meningkatkn
harga jual kwh pada gardu pelayanan umum dilaksankan dengan optimalisasi
mksimal apabila prosentase beban pelanggan-pelanggan tarif tinggi lebih besar
dari prosentase beban pelanggan-pelanggan tarif rendah.
D.
Pelaksanaan Optimalisasi Tegangan
1.
Optimalisasi dari Gardu Induk
Optimalisasi
tegangan dapat dilakukan dari gardu induk apabila :
- Beban tarif rendah / loses tingi
(pada umumnya tarif R dan S) disuplai dengan trafo tenaga sendiri.
- Beban tarif tinggi / loses rendah
(pada umumnya tarif B, I dan P) disuplai dengan trafo tenaga sendiri.
- Beban tarif tinggi / losses rendah
lebih dominan pada sistem yang disuplai suatu trafo tenaga.
- Pada beban puncak, tidak
menyebabkan trafo-trafo distribusi overload.
- Pada beban dasar, tidak
menyebabkan tegngan over standar pda konsumen.
- Memperhatikan kemungkinan
konsumen-konsumen TM mengatur ulang tap changer trafo distribusinya.
Jika tidak, maka dapat terjadi kontraproduktif dimana :
- Harga rata-rata kwh menurun dan
loses meningkat
- Terjadi banyak overload pada
trafo-trafo distribuai yang akan menyebabkan kerusakan.
- Terjadi overstandar tegangan pada
konsumen.
Memperhatikan komposisi beban sistem pada umumnya, maka
peluang melaksanakan opimalisasi dari GI adalah pada saat beban puncak. Yakni
sebagai kompensasi terhadap drop tegangan yang cukup besar :
- drop tegangan pada
penghantar-penghantar sistem
- drop tegangan pada trafo tegangan
dan distribusi karena faktor regulasi tegangan trafo pada beban puncak
- besar drop tegangan dalam sistem
dapat diukur pada sisi sekunder trafo distribusi
Optimalisasi ini dapat dilaksankan apabila trafo-trafo
distribusi telah disyaratkan beroperasi pada beban 85 % kapasitasnya.
E.
Optimalisasi Dari gardu distribusi
Optimalisasi
dari gardu distribusi relatif lebih mudah dilaksanakan karena hal-hal sebagai
berikut :
- Daya kontak konsumen-konsumen
besar pada umumnya relatif sama dengan standarisasi KVA trafo distribusi,
sehingga biasa dilayani dengan trafo tersendiri.
- Tarif bisnis pada umumnya
terkonsentrasi di Kota, sedangkan tarif industri di kawasan industri.
- Kecenderungan golongan tarif bebn
mudah diidentifikasi sekalipun pada gardu pemakaian bersama.
F.
Teknis Pelaksanaan
Pengukuran
tegangan untuk optimalisasi peningkatan kinerja losses dan harga jual rata-rat
kwh dilakukan pada terminal-terminal beban atau pada titik pemakaian. Sedangkan
optimlisasi untuk memperpanjang umur operasi trafo overload, diukur pada
tegangan sekunder trafo distribusi.
BAB VI
SISTEM PROTEKSI JARINGAN TEGANGAN 20KV
6.1.
Pendahuluan
Sistem tenaga listrik sangat memegang peranan penting dalam
semua aspek, sehingga faktor keamanan pada pusat pembangkit listrik maupun pada
jaringan tegangan menengah sangat diperlukan.
Dalam jaringan distribusi terdapat banyak sekali gangguan
yang mengakibatkan penurunan kapasitas daya listrik yang disalurkan ke beban.
Hal tersebut dapat mengganggu mekanisme kerja penggunaan energi listrik. Maka
dari itu untuk memperoleh kontinuitas pelayanan tersebut penerapan dan
penggunaan peralatan proteksi dalam mengatasai gangguan mempunyai peranan yang
sangat penting.
Peralatan pengaman dalam sistem tenaga listrik, digunakan sebagai
pengaman pada daerah - daerah tertentu. Daerah pengaman tersebut dibuat
sedemikian rupa sehingga dibeberapa bagian dalam saluran terjadi tumpang tindih
sehingga tidak ada daerah didalam sistem tenaga listrik yang tidak terlindungi.
Alat proteksi yang digunakan adalah sebuah rele dan perlengkapannya
yang bekerja memberi perintah kepada pemutus tenaga untuk membuka atau
memisahkan bagian bila terjadi gangguan.
Untuk memudahkan pengamanan terhadap gangguan, digunakan rele yang
berfungsi membuka dan menutup secara otomatis yang disebut ”reclosing
(recloser)” dimana sistem kendalinya ada pada kotak kontrol elektronik. Recloser merupakan suatu peralatan pengaman yang dapat mendeteksi
arus lebih karena hubung singkat antara fasa dengan fasa atau fasa dengan tanah,
dimana recloser ini memutus arus dan menutup kembali secara otomatis dengan
selang waktu yang dapat diatur misal dengan setting interval reclose 1 sampai 5
detik dan setting interval reclose 2 sampai 10 detik dan pada trip ketiga recloser
akan membuka tetap dengan sendirinya karena gangguan itu bersifat permanen.
Peralatan ini digunakan sebagai pelindung saluran distrbusi dan mempunyai
peranan penting dalam perlindungan sistem daya karena saluran distribusi
merupakan elemen vital suatu jala-jala, yang menghubungkan gardu induk (GI) ke pusat – pusat beban.
Pembatasan gangguan pelayanan dapat diukur untuk daerah
sesempit
mungkin dengan cara memasang saklar-saklar bersekering yang dipasang pada
tempat-tempat strategis dan diberi pengaman lebur. Ini akan menjamin bahwa
sekering ditempat yang terdekat dengan letak gangguan akan bekerja terlebih
dahulu pada saat ganguan itu terjadi. Pada jaringan distribusi diperoleh data
bahwa 70% sampai 80% gangguan bersifat permanen yaitu gangguan yang dapat
dihilangkan atau diperbaiki setelah bagian yang terganggu itu diisolir dengan
bekerjanya pemutus daya (TS. Hautaruk,1991:4).
mungkin dengan cara memasang saklar-saklar bersekering yang dipasang pada
tempat-tempat strategis dan diberi pengaman lebur. Ini akan menjamin bahwa
sekering ditempat yang terdekat dengan letak gangguan akan bekerja terlebih
dahulu pada saat ganguan itu terjadi. Pada jaringan distribusi diperoleh data
bahwa 70% sampai 80% gangguan bersifat permanen yaitu gangguan yang dapat
dihilangkan atau diperbaiki setelah bagian yang terganggu itu diisolir dengan
bekerjanya pemutus daya (TS. Hautaruk,1991:4).
Permasalahan yang sering muncul pada saluran distribusi atau jaringan
tegangan menengah 20kV adalah bagaimana mengatasi suatu gangguan yang
menghambat kelancaran sistem penyaluran beban. Ada banyak jenis recloser yang
digunakan dalam mengatasi gangguan salah satunya memasang sebuah rele
otomatis yang dapat mempersempit daerah gangguan. Jenis recloser menurut
media peredaman busur apinya adalah (PLN, Pusdiklat.1997):
1. Vaccum (hampaudara)
-Nova
2. GasSF6
-Brush
-Nullec
3.
Oil (minyak)
-MVE
-VWVE
Untuk
menghindari kekeliruan dalam menafsirkan suatu persoalan, penegasan istilah
yang digunakan adalah:
1. Recloser adalah fasilitas
tembahan pada system distribusi untuk menghindari
pemutusan transient (KG.jacson, 1981:302).
pemutusan transient (KG.jacson, 1981:302).
2. Sistem adalah sekelompok bagian
(alat dan sebagainya) yang bekerja bersama - sama untuk melakukan suatu maksud
(WJS. Poerwodarminto, 1996 : 955).
3. Proteksi adalah piranti yang
dirancang untuk melindungi komponen peralatan
atau sistem listrik dari berbagai efek yang merusak ketika kondisi ab-normal
muncul selama operasi (KG.Jacson,1981:291).
atau sistem listrik dari berbagai efek yang merusak ketika kondisi ab-normal
muncul selama operasi (KG.Jacson,1981:291).
6.2.
Sistem Jaringan Distribusi
Sistem jaringan distribusi ditinjau dari sistem tegangannya
dapat di
kelompokkan menjadi dua tegangan, yaitu distribusi tegangan rendah dan
distribusi tegangan menengah. Sistem distribusi tegangan menengah di PLN
mempunyai sistem radial dengan saluran udara dan saluran kabel tanah pada kota-
kota besar. Tegangan menengah yang digunakan saat ini adalah 20 kV.
Bila dikelompokkan berdasarkan sumber pemasukan tegangan sistem
distribusi, dapat berasal dari:
kelompokkan menjadi dua tegangan, yaitu distribusi tegangan rendah dan
distribusi tegangan menengah. Sistem distribusi tegangan menengah di PLN
mempunyai sistem radial dengan saluran udara dan saluran kabel tanah pada kota-
kota besar. Tegangan menengah yang digunakan saat ini adalah 20 kV.
Bila dikelompokkan berdasarkan sumber pemasukan tegangan sistem
distribusi, dapat berasal dari:
1. Pusat pembangkit tegangan rendah,
disalurkan pada sistem distribusi
yang umumnya pada listrik desa.
yang umumnya pada listrik desa.
2. Pusat pembangkit tegangan
menengah, didistribusikan pada tegangan
menengah dan tegangan rendah umumnya di dapatkan di pulau - pulau
sedang atau kecil.
menengah dan tegangan rendah umumnya di dapatkan di pulau - pulau
sedang atau kecil.
3.
Dari sistem tegangan tinggi menggunakan trafo daya pada GI.
Sistem distribusi mempunyai fungsi menyalurkan dan mendistribusikan
tenaga listrik dari gardu induk atau pusat pembangkit ke pusat - pusat atau
kelompok beban, dengan mutu yang memadai dan keterhandalan sistem yang
tinggi.
Jadi tingkat kehandalan tinggi dapat diperoleh dengan
tingkat komunitas pelayannan yang tinggi dan frekuensi pemadaman karena
gangguan rendah. Frekuansi pemadaman karena gangguan dapat
diperkecil dengan sistem proteksi yang sesuai, baik dan memadai.
6.3. Gangguan
6.3.1.
Pengertian
Gangguan adalah suatu keadaan sistem yang tidak normal, sehingga
gangguan pada umumnya terdiri dari hubung singkat dan rangkaian terbuka (open
circuit). Bila hubung singkat dibiarkan berlangsung lama pada suatu sistem daya,
akan muncul pengaruh-pengaruh berikut ini :
1.
Berkurangnya batas - batas keseimbangan untuk sistem daya itu.
2. Rusaknya peralatan yang berada
dekat dengan gangguan yang disebabakan
oleh arus yang besar, arus yang tidak seimbang atau tegangan - tegangan
rendah yang disebabkan oleh hubung singkat.
oleh arus yang besar, arus yang tidak seimbang atau tegangan - tegangan
rendah yang disebabkan oleh hubung singkat.
3. Ledakan - ledakan yang mungkin
terjadi pada peralatan yang mengandung
minyak isolasi sewaktu hubung singkat, dan mungkin menimbulkan
kebakaran sehingga dapat membahayakan orang yang menanganinya dan
merusak peralatan yang lain.
minyak isolasi sewaktu hubung singkat, dan mungkin menimbulkan
kebakaran sehingga dapat membahayakan orang yang menanganinya dan
merusak peralatan yang lain.
4. Terpecah - pecahnya keseluruhan
daerah pelayanan sistem daya itu oleh
suatu rentetan tindakan pengaman yang diambil oleh sistem - sistem
pengaman yang berbeda - beda.
suatu rentetan tindakan pengaman yang diambil oleh sistem - sistem
pengaman yang berbeda - beda.
6.3.2. Sebab - Sebab Terjadinya Gangguan
Menurut Hutauruk (1991:4), ada beberapa macam gangguan tranmisi,
yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor lainnya. Faktor - faktor yang
dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem transmisi ialah :
1. Surja petir atau surja hubung.
Petir sering menyebabkan gangguan
pada sistem tegangan tinggi sampai
150 - 500kV. Sedangkan pada sistem dibawah 20kV, yang menjadi sebab
utama adalah surja hubung.
150 - 500kV. Sedangkan pada sistem dibawah 20kV, yang menjadi sebab
utama adalah surja hubung.
2.
Burung
Jika burung dekat pada isolator gantung dari saluran
transmisi, maka
clearance (jarak aman) menjadi berkurang sehingga ada kemungkinan
terjadi loncatan api.
clearance (jarak aman) menjadi berkurang sehingga ada kemungkinan
terjadi loncatan api.
3.
Polusi (debu)
Debu - debu yang menempel pada isolator merupakan konduktor
yang
bisa menyebabkan terjadinya loncatan bunga api.
bisa menyebabkan terjadinya loncatan bunga api.
4.
Pohon - pohon yang tumbuh dekat saluran transmisi.
5.
Retak - retak pada isolator.
Dengan adanya retak - retak isolator maka secara mekanis
apabila ada
petir yang menyambar akan tembus (break down) pada isolator.
petir yang menyambar akan tembus (break down) pada isolator.
6.3.3. Macam–macam Gangguan
1. Gangguan pada saluran :
a) Gangguan dua fasa atau tiga fasa melalui tahap hubung
tanah.
b) Gangguan dua
fasa.
c) Gangguan dua
fasa ketanah.
d) Gangguan
satu fasa ketanah atau gangguan tanah.
2. Lamanya waktu gangguan :
a) Gangguan
permanen
Gangguan
permanen baru dapat dihilangkan atau diperbaiki setelah
bagian terganggu itu di isoler dengan bekerjanya pemutus daya.
bagian terganggu itu di isoler dengan bekerjanya pemutus daya.
Gangguan
temporer yaitu gangguan yang terjadi hanya dalam waktu singkat kemudian sistem
kembali pada keadaan normal. Misalnya gangguan yang disebabkan oleh petir atau
burung, dimana terjadi loncatan api pada isolasi udara atau minyak.
Dari berbagai macam penyebab gangguan tersebut, jenis gangguan dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
1. Gangguan
akibat hubung singkat. Termasuk hubung singkat satu atau dua
fasa ketanah (ground), hubung singkat antara dua fasa dengan tiga fasa,
atau hubung singkat antara tiga fasa dengan tanah.
fasa ketanah (ground), hubung singkat antara dua fasa dengan tiga fasa,
atau hubung singkat antara tiga fasa dengan tanah.
2. Gangguan
akibat putusnya kawat penghantar (Open Circuit) dapat terjadi
pada penghantar satu fasa, dua fasa dan tiga fasa. Dari gangguan ini
menimbulkan:
pada penghantar satu fasa, dua fasa dan tiga fasa. Dari gangguan ini
menimbulkan:
a. Kontinuitas
penyaluran daya terputus.
b. Penurunan
tegangan yang cukup besar dapat menyebabkan rendahnya kualitas tenaga listrik.
c. Peralatan -
peralatan yang terdapat pada tempat terjadinya gangguan akan rusak.
6.3.4. Pencegahan Gangguan
Sistem tenaga listrik dikatakan baik apabila dapat mencatu atau
menyalurkan tenaga listrik ke konsumen dengan tingkat kehandalan yang tinggi.
Kehandalan disini meliputi kelangsungan, dan stabilitas penyaluran sistem tenaga listrik.
Pemadaman listrik sering terjadi akibat gangguan yang tidak
dapat diatasi
oleh sistem pengamanannya. Kehandalan ini akan sangat mempengaruhi
kelangsungan penyaluran tenaga listrik. Naik turunnya kondisi tegangan dan catu
daya listrik bisa merusak peralatan listrik.
oleh sistem pengamanannya. Kehandalan ini akan sangat mempengaruhi
kelangsungan penyaluran tenaga listrik. Naik turunnya kondisi tegangan dan catu
daya listrik bisa merusak peralatan listrik.
Sebagaimana di jelaskan didepan, ada beberapa jenis gangguan
pada
saluran tenaga listrik yang memang tidak semuanya bisa dihindarkan. Untuk itu
perlu dicari upaya pencegahan agar bisa memperkecil kerusakan pada peralatan
listrik, terutama pada manusia akibat adanya gangguan. Pencegahan gangguan
pada sistem tenaga listrik biasa di kategorikan menjadi dua langkah sebagai
berikut (supriyadi,1999:13) :
saluran tenaga listrik yang memang tidak semuanya bisa dihindarkan. Untuk itu
perlu dicari upaya pencegahan agar bisa memperkecil kerusakan pada peralatan
listrik, terutama pada manusia akibat adanya gangguan. Pencegahan gangguan
pada sistem tenaga listrik biasa di kategorikan menjadi dua langkah sebagai
berikut (supriyadi,1999:13) :
1. Usaha memperkecil terjadinya gangguan
Beberapa cara untuk mengurangi akibat gangguan, antara lain
sebagai
berikut :
berikut :
a. Membuat isolasi yang baik untuk
semua peralatan.
b. Membuat koordinasi isolasi yang
baik antara ketahanan isolasi peralatan dan penangkal petir (arrester).
c. Memakai kawat tanah dan membuat
tahanan tanah sekecil mungkin pada kaki menara, serta selalu mengadakan
pengecekan.
d. Membuat perencanaan yang baik
untuk mengurangi pengaruh luar mekanis dan mengurangi atau menghindarkan sebab
– sebab gangguan karena binatang, polusi, kontaminasi, dan lain - lain.
e. Pemasangan yang baik, artinya
pada saat pemasangan harus mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku.
f Menghindarkan kemungkinan
kesalahan operasi, yaitu dengan membuat prosedur tata cara operasional dan membuat
jadwal pemeliharaan yang rutin.
g. Memasang kawat tanah pada SUTT
dan GI untuk melindungi terhadap sambaran petir.
h. Memasang lighting arrester
(penangkal petir) untuk mencegah kerusakan pada peralatan akibat sambaran
petir.
2.
Usaha mengurangi kerusakan akibat gangguan
Beberapa
cara untuk mengurangi akibat gangguan, antara lain sebagai
berikut :
berikut :
a. Mengurangi akibat gangguan
misalnya dengan membatasi arus hubung singkat, caranya dengan menghindari
konsentrasi pembangkitan atu dengan memakai impedansi pembatas arus, pemasangan
tahanan, atau reaktansi untuk sistem pentanahannya sehingga arus gangguan satu
fasa terbatas. Pemakaian peralatan yang tahan atau handal terhadap terjadinya
arus hubung singkat.
b. Secepatnya memisahkan bagian
sistem yang terganggu dengan memakai pengaman lebur atau rele pengaman pemutus
beban dengan kapasitas pemutusan yang memadai.
c. Merencanakan agar bagian sistem
yang terganggu bila harus dipisahkan dari sistem tidak akan mengganggu operasi
sistem secara keseluruhan atau penyaluran tenaga listrik ke konsumen tidak
terganggu. Hal ini dapat dilakukan, misal dengan:
2. Memakai penutup balik otomatis.
3. Memakai generator cadangan.
d. Mempertahankan stabilitas system
selama terjadinya gangguan, yaitu dengan memakai pengatur tegangan otomatis
yang cepat dan karakteristik kestabilan generator yang memadai.
e. Membuat data pengamatan gangguan
sistematis dan efektif, misalnya dengan menggunakan alat pencatat gangguan
untuk mengambil langkah - langkah lebih lanjut.
6.4. Sistem Pengaman
6.4.1. Pengertian Pengaman
Sistem pengaman tenaga listrik merupakan sistem pengaman pada
peralatan - peralatan yang terpasang pada sistem tenaga listrik, seperti
generator, bus bar, transformator, saluran udara tegangan tinggi, saluran kabel
bawah tanah, dan lain sebagainya terhadap kondisi ab-normal operasi sistem
tenaga listrik tersebut.
6.4.2. Fungsi Pengaman
Kegunaan pengaman tenaga listrik antara lain (Supriadi, 1999 : 3) :
1. Mencegah kerusakan peralatan -
peralatan pada sistem tenaga
listrik akibat terjadinya gangguan atau kondisi operasi sistem yang
tidak normal.
listrik akibat terjadinya gangguan atau kondisi operasi sistem yang
tidak normal.
2. Mempersempit daerah yang
terganggu sehingga gangguan tidak
melebar pada sistem yang lebih luas.
melebar pada sistem yang lebih luas.
4. Mengamankan manusia dari bahaya
yang ditimbulkan oleh tenaga
listrik.
listrik.
Pada saat terjadi gangguan atau ketidak normalan pada sistem tenaga
listrik, misal adanya arus lebih, tegangan lebih, dan sebagainya, maka perlu
diambil suatu tindakan untuk mengatasi kondisi gangguan tersebut. Jika
dibiarkan gangguan itu akan meluas keseluruh sistem sehingga bisa merusak
semua peralatan sistem tenaga listrik yang ada. Untuk mengatasi hal tersebut
diperlukan suatu sistem pengaman yang handal.
Pengaman pada sisatem tenaga listrik pada dasarnya terdiri atas
pemutus tenaga (PMT) atau circuit breaker (CB) yang bekerja memutus
rangkaian jika terjadi gangguan yang operasinya dikendalikan oleh rele
pengaman.
Rusaknya peralatan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pada
sistem daya, dimana pada sistem daya proses peniadaan hubung singkat di
laksanakan secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Peralatan ini
sebagai sistem perlindungan atau sistem pengaman (protection system).
6.4.3. Daerah-Daerah Perlindungan Pengaman (Proteksi)
Batas setiap daerah menentukan bagian sistem daya sedemikian rupa
sehingga untuk gangguan yang terjadi didalam daerah tersebut, sistem proteksi
yang bertanggung jawab akan bertindak untuk memisahkan semua gangguan
yang berada di daerah itu untuk seluruh bagian yang lain dari sistem. Karena pemisah (pemutus daya = de-energization) dalam keadaan terganggu tadi
dialakukan oleh pemutus rangkaiaan, jelas bahwa pada setiap titik hubungan
antara peralatan didalam daerah itu dengan bagian lainnya dari sistem harus
menyisipkan pemutus rangkaian (Stevenson,1990 : 319).
Keterangan
gambar :
1. Daerah
pelindungan pembangkit.
B=Breaker
2. Daerah
pelindungan trafo tenaga.
P=Daerah Gangguan
P=Daerah Gangguan
3. Daerah
pelindungan ril.
T=Transduser
T=Transduser
4. Daerah pelindungan saluran tranmisi
R=Rele
5. Daerah pelindungan ril.
G=Generator
5. Daerah pelindungan ril.
G=Generator
Pada
gambar diatas bagian sistem daya terdiri dari satu generator, dua
transformator, dua saluran transmisi dan tiga buah ril dilukiskan oleh diagram
segaris. Garis putus-putus dan tertutup menunjukkan pembagian sistem daya
kedalam lima daerah proteksi. Masing-masing daerah mengandung satu atau
beberapa komponen sistem daya disamping dua buah pemutus rangkaian. Setiap pemutus dimasukkan kedalam dua daerah proteksi yang berdekatan.
Daerah 1, misal mengandung generator, transformatornya yang berhubungan, dan
saluran penghubung antara generator dan transformator itu. Daerah 3 hanya suatu
saluran transmisi. Daerah 1 dan 5 masing-masing mengandung dua komponen system
daya.
Aspek penting lainnya tentang daerah proteksi adalah bahwa daerah yang
berdekatan selalu tumpang tindih (overlap). Hal ini memang perlu karena jika
tidak demikian, maka bagian kecil sistem yang berada diantara daerah yang
berdekatan, betapapun kecilnya akan dibiarkan tanpa proteksi, jika kebetulan
terjadi gangguan dibagian yang saling menutupi, maka bagian yang lebih besar
dari sistem daya ( yaitu yang berhubungan dengan kedua daerah yang saling
tumpang tindih ) akan dipisah dan tidak akan memberikan pelayanan. Untuk itu
mengurangi kemungkinan semacam ini hingga sekecil-kecilnya, bagian yang
tumpang tindih dibuat sekecil mungkin.
6.5. Rele Pengaman
6.5.1. Pengertian
Pada saat terjadi gangguan atau ketidak normalan pada sistem tenaga
listrik misalnya ada arus lebih, tegangan lebih, atau sebagainya, maka perlu
diambil suatu tindakan untuk mengatasi kondisi gangguan tersebut. Jika
dibiarkan, gangguan itu akan meluas ke seluruah sistem sehingga bisa merusak
seluruh peralatan sistem tenaga listrik yang ada. Untuk mengatasi hal tersebut,
mutlak diperlukan suatu sistem pengaman yang handal. Salah satu komponen yang penting untuk pengaman tenaga listrik adalah rele pengaman (protection
relay).
Rele pengaman adalah suatu piranti, baik elektronik atau magnetic yang
direncanakan untuk mendeteksi suatu kondisi ketidak normalan pada peralatan
listrik yang bisa membahayakan atau tidak diinginkan. Jika bahaya itu muncul
maka rele pengaman secara otomatis memberikan sinyal atau perintah untuk
membuka pemutus tenaga agar bagian terganggu dapat dipisahkan dari sistem
yang normal. Rele pengaman dapat mengetahui adanya gangguan pada peralatan
yang perlu diamankan dengan mengukur atau membandingkan besaran - besaran
yang diterimanya, misalnya arus, tegangan, daya, sudut fasa, frekuensi, dan lain
sebagainya sesuai dengan besaran yang telah ditentukan. Alat tersebut kemudian
akan mengambil keputusan seketika dengan perlambatan waktu membuka
pemutus tenaga atau hanya memberikan tanda tanpa membuka pemutus tenaga.
Pemutus tenaga dalam hal ini harus mempunyai kemampuan untuk memutus arus
hubung singkat maksimum yang melewatinya dan harus mampu menutup
rangkaian dalam keadaan hubung singkat dan kemudian membuka
kembali.(Supriyadi,1999 : 21).
6.5.2. Fungsi Rele
Pada prinsipnya rele pengaman yang di pasang pada sistem tenaga listrik
mempunyai tiga macam fungsi (Supriyadi, 1999 : 22) yaitu :
2)
Mengurangi gangguan kerusakan yang lebih parah dari peralatan yang
terganggu.
terganggu.
3)
Mengurangi pengaruh gangguan terhadap sistem yang lain yang tidak
terganggu dalam sistem tersebut serta dapat beroperasi normal, juga
untuk mencegah meluasnya gangguan.
terganggu dalam sistem tersebut serta dapat beroperasi normal, juga
untuk mencegah meluasnya gangguan.
6.5.3. Persyaratan Rele Pengaman
Pada sistem tenaga listrik, rele memegang peran yang sangat penting.
Pengaman berkualitas yang baik memerlukan rele pengaman yang baik pula.
Untuk itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh rele pengaman
(Supriyadi, 1999 : 22), seperti tersebut dibawah ini
1.
Keterandalan (reliability)
Pada
kondisi normal atau tidak ada gangguan, mungkin selama
berbulan - bulan atau lebih rele tidak bekerja. Seandainya suatu saat terjadi
gangguan maka rele tidak boleh gagal bekerja dalam mengatasi gangguan
tersebut. Kegagalan kerja rele dapat mengakibatkan alat yang diamankan
rusak berat atau gangguannya meluas sehingga daerah yang mengalami
pemadaman semakin luas.
berbulan - bulan atau lebih rele tidak bekerja. Seandainya suatu saat terjadi
gangguan maka rele tidak boleh gagal bekerja dalam mengatasi gangguan
tersebut. Kegagalan kerja rele dapat mengakibatkan alat yang diamankan
rusak berat atau gangguannya meluas sehingga daerah yang mengalami
pemadaman semakin luas.
Rele
tidak boleh gagal kerja, artinya rele yang seharusnya tidak
bekerja, tetapi bekerja. Hal ini menimbulkan pemadaman yang tidak
seharusnya dan menyulitkan analisa gangguan yang terjadi. Keandalan rele
pengaman di tentukan dari rancangan, pengerjaan, beban yang digunakan,
dan perawatan.
bekerja, tetapi bekerja. Hal ini menimbulkan pemadaman yang tidak
seharusnya dan menyulitkan analisa gangguan yang terjadi. Keandalan rele
pengaman di tentukan dari rancangan, pengerjaan, beban yang digunakan,
dan perawatan.
Selektivitas
berarti rele harus mempunyai daya beda (discrimination)
terhadap bagian yang terganggu, sehingga mampu dengan tepat memilih
bagian dari sistem tenaga listrik yang terkena gangguan. Kemudian rele
bertugas mengamankan peralatan atau bagian sistem dalam jangkauan
pengamanannya. Tugas rele untuk mendeteksi adanya gangguan yang terjadi
pada daerah dan pengamanannya dan memberikan perintah untuk membuka
pemutus tenaga dan memisahkan bagian dari sistem yang terganggu. Letak
pemutus tenaga sedemikian rupa sehingga setiap bagian dari sistem dapat
dipisahkan. Dengan demikian bagian sistem lainnya yang tidak terganggu
jangan sampai dilepas dan masih beroperasi secara normal, sehingga tidak
terjadi pemutus pelayanan. Jika terjadi pemutusan atau pemadaman hanya
terbatas pada daerah yang terganggu.
terhadap bagian yang terganggu, sehingga mampu dengan tepat memilih
bagian dari sistem tenaga listrik yang terkena gangguan. Kemudian rele
bertugas mengamankan peralatan atau bagian sistem dalam jangkauan
pengamanannya. Tugas rele untuk mendeteksi adanya gangguan yang terjadi
pada daerah dan pengamanannya dan memberikan perintah untuk membuka
pemutus tenaga dan memisahkan bagian dari sistem yang terganggu. Letak
pemutus tenaga sedemikian rupa sehingga setiap bagian dari sistem dapat
dipisahkan. Dengan demikian bagian sistem lainnya yang tidak terganggu
jangan sampai dilepas dan masih beroperasi secara normal, sehingga tidak
terjadi pemutus pelayanan. Jika terjadi pemutusan atau pemadaman hanya
terbatas pada daerah yang terganggu.
3) Sensitivitas (sensitivity)
Rele
harusnya mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap besaran
minimal (kritis) sebagaimana direncanakan. Rele harus dapat bekerja pada
awal terjadinya gangguan. Oleh karena itu, gangguan lebih mudah diatasi
pada awal kejadian. Hal ini memberikan keuntungan dimana kerusakan
peralatan yang harus diamankan menjadi kecil. Namun demikian rele harus stabil, artinya:
minimal (kritis) sebagaimana direncanakan. Rele harus dapat bekerja pada
awal terjadinya gangguan. Oleh karena itu, gangguan lebih mudah diatasi
pada awal kejadian. Hal ini memberikan keuntungan dimana kerusakan
peralatan yang harus diamankan menjadi kecil. Namun demikian rele harus stabil, artinya:
a. Rele harus dapat membedakan
antara arus gangguan atau arus beban maksimum.
b. Pada saat pemasukan trafo daya,
rele tidak boleh bekerja karena adanya arus inrush, yang besarnya seperti
gangguan, yaitu 3 sampai 5 kali arus beban maksimum.
c. Rele harus dapat membedakan
adanya gangguan atau ayunan beban.
4)
Kecepatan kerja
Rele
pengaman harus dapat bekerja dengan cepat jika ada gangguan,
misalnya isolasi bocor akibat adanya gangguan tegangan lebih terlalu lama
sehingga peralatan listrik yang diamankan dapat mengalami kerusakan. Pada
sistem yang besar atau luas, kecepatan kerja rele pengaman mutlak
diperlukan karena untuk menjaga kestabilan sistem agar tidak terganggu.
Hal ini untuk mencegah rele salah kerja karena transient akibat surja petir.
misalnya isolasi bocor akibat adanya gangguan tegangan lebih terlalu lama
sehingga peralatan listrik yang diamankan dapat mengalami kerusakan. Pada
sistem yang besar atau luas, kecepatan kerja rele pengaman mutlak
diperlukan karena untuk menjaga kestabilan sistem agar tidak terganggu.
Hal ini untuk mencegah rele salah kerja karena transient akibat surja petir.
5) Ekonomis
Satu hal penting yang harus
diperhatikan sebagai persyaratan rele pengaman adalah masalah harga atau biaya.
Rele tidak akan diaplikasikan dalam sistem tenaga listrik jika harganya mahal.
Persyaratan reabilitas, sensitivitas, selektivitas, dan kecepatan kerja rele
hendaknya tidak menyebabkan harga rele menjadi mahal.
6.5.4. Jenis – Jenis Rele
Pada dasarnya sistem perlindungan arus lebih yang digunakan pada
saluran distribusi maupun pada saluran transmisi tidak berdiri sendiri artinya
dalam pengoperasiannya, dibantu oleh rele lain, yaitu (Sulasno, 1993: 345):
Adalah rele
perlindungan yang bekerja apabila arus yang melewati
daerah pengaman (zone protection) melebihi arus penyetelan dari rele arus
tersebut dan memerintahkan PMT (pemutus tenaga) untuk segera memisahkan daerah terganggu secara otomatis.
daerah pengaman (zone protection) melebihi arus penyetelan dari rele arus
tersebut dan memerintahkan PMT (pemutus tenaga) untuk segera memisahkan daerah terganggu secara otomatis.
b. Rele arah
Adalah reale
yang bekerja bila arus gangguan mempunyai arah tertentu
dan arah sebaliknya tidak bekerja. Apabila rele arah ini digabung dengan rele arus lebih maka rele tersebut akan diakatakan sebagai rele arus lebih terarah.
dan arah sebaliknya tidak bekerja. Apabila rele arah ini digabung dengan rele arus lebih maka rele tersebut akan diakatakan sebagai rele arus lebih terarah.
c. Rele
gangguan tanah
Adalah rele
yang bekerja apabila terjadi gangguan hubung singkat
ketanah atau antara fasa ketanah.
ketanah atau antara fasa ketanah.
d. Rele penutup kembali (auto reclosing)
Apabila pemutus tenaga yang dibuka
pada waktu terjadi gangguan
dapat ditutup kembali secara otomatis sesudah waktu tertentu maka proses ini dinamakan penutup kembali.
dapat ditutup kembali secara otomatis sesudah waktu tertentu maka proses ini dinamakan penutup kembali.
e. Rele jarak atau impedansi
Rele jarak bekerja atas dasar
perbandingan tegangan (V) dan arus (I)
yang terukur pada lokasi rele dimana rele tersebut ditempatkan pada saat
terjadinya gangguan. Apabila V / I yang terukur lebih kecil dari V / I yang
diamankan atau impedansi (L) saluran yang diamankan rele bekerja. Oleh
karena impedansi saluran transmisi sebanding dengan jarak maka rele
impedansi juga disebut rele jarak.
yang terukur pada lokasi rele dimana rele tersebut ditempatkan pada saat
terjadinya gangguan. Apabila V / I yang terukur lebih kecil dari V / I yang
diamankan atau impedansi (L) saluran yang diamankan rele bekerja. Oleh
karena impedansi saluran transmisi sebanding dengan jarak maka rele
impedansi juga disebut rele jarak.
Apabila terjadi gangguan pada
saluran transmisi yang mengakibatkan
tegangan sistem turun dibawah harga penyetelan rele ini, maka rele turun
tegangan bekerja.
tegangan sistem turun dibawah harga penyetelan rele ini, maka rele turun
tegangan bekerja.
g. Rele waktu
Rele waktu ini akan bekerja sesuai sifat
penyetelan dan berfungsi
sebagai penghambat kerja penjatuhan pemutus tenaga yang disesuaikan
dengan lokasi gangguan.
sebagai penghambat kerja penjatuhan pemutus tenaga yang disesuaikan
dengan lokasi gangguan.
h. Rele perasa (statter)
Rele ini bekerja paling awal untuk
merasakan gangguan yang
selanjutnya menghidupkan rele yang lain untuk beroperasi (menghidupkan
rele pengukur atau rele waktu).
selanjutnya menghidupkan rele yang lain untuk beroperasi (menghidupkan
rele pengukur atau rele waktu).
BAB VII
PENUTUP BALIK OTOMATIS (AUTO CIRCUIT RECLOSER)
7.1. Pengertian
Recloser adalah rangkaian listrik yang terdiri pemutus
tenaga yang
dilengkapi kotak kontrol elektonik (Electronic Control Box) recloser, yaitu suatu
peralatan elektronik sebagai kelengkapan recloser dimana peralatan ini tidak
berhubungan dengan tegangan menengah dan pada peralatan ini recloser dapat
dikendalikan cara pelepasannya. Dari dalam kotak kontrol inilah pengaturan
(setting) recloser dapat ditentukan.
dilengkapi kotak kontrol elektonik (Electronic Control Box) recloser, yaitu suatu
peralatan elektronik sebagai kelengkapan recloser dimana peralatan ini tidak
berhubungan dengan tegangan menengah dan pada peralatan ini recloser dapat
dikendalikan cara pelepasannya. Dari dalam kotak kontrol inilah pengaturan
(setting) recloser dapat ditentukan.
Alat pengaman ini bekerja secara otomatis guna mengamankan
suatu
sistem dari arus lebih yang diakibatkan adanya gangguan hubung singkat. Cara
bekerjanya adalah untuk menutup balik dan membuka secara otomatis yang dapat
diatur selang waktunya, dimana pada sebuah gangguan temporer, recloser tidak membuka tetap (lock out), kemudian recloser akan menutup kembali setelah
gangguan itu hilang. Apabila gangguan bersifat permanen, maka setelah membuka
atau menutup balik sebanyak setting yang telah ditentukan kemudian recloser
akan membuka tetap (lock out).
sistem dari arus lebih yang diakibatkan adanya gangguan hubung singkat. Cara
bekerjanya adalah untuk menutup balik dan membuka secara otomatis yang dapat
diatur selang waktunya, dimana pada sebuah gangguan temporer, recloser tidak membuka tetap (lock out), kemudian recloser akan menutup kembali setelah
gangguan itu hilang. Apabila gangguan bersifat permanen, maka setelah membuka
atau menutup balik sebanyak setting yang telah ditentukan kemudian recloser
akan membuka tetap (lock out).
7.2. Fungsi Recloser
Pada suatu gangguan permanen, recloser berfungsi memisahkan
daerah atau jaringan yang terganggu sistemnya secara cepat sehingga dapat
memperkecil daerah yang terganggu pada gangguan sesaat, recloser akan
memisahkan daerah gangguan secara sesaat sampai gangguan tersebut akan
dianggap hilang, dengan demikian recloser akan masuk kembali sesuai
settingannya sehingga jaringan akan aktif kembali secara otomatis.
Untuk lebih lengkapnya dibawah ini adalah beberapa setting waktu
pada gangguan yang terjadi:
daerah atau jaringan yang terganggu sistemnya secara cepat sehingga dapat
memperkecil daerah yang terganggu pada gangguan sesaat, recloser akan
memisahkan daerah gangguan secara sesaat sampai gangguan tersebut akan
dianggap hilang, dengan demikian recloser akan masuk kembali sesuai
settingannya sehingga jaringan akan aktif kembali secara otomatis.
Untuk lebih lengkapnya dibawah ini adalah beberapa setting waktu
pada gangguan yang terjadi:
1)
Setting recloser terhadap gangguan prmanen
Interval
1st :5detik
2
nd :10 detik Lock out :3X trip (reclose 2X)
Reset
delay :90 detik
2)
Setting recloser terhadp gangguan sesaat sama dengan gangguan
permanen yang membedakan adalah tidak ada trip ke 3.
permanen yang membedakan adalah tidak ada trip ke 3.
Ada bermacam-macam selang penutup kembali atau recloser
interval
dari recloser adalah sebagai berikut terjadi:
dari recloser adalah sebagai berikut terjadi:
1. Menutup balik seketika atau instantaneous reclosing
Membuka kontak paling singkat, agar
tidak mengganggu daerah-daerah
beban yang terdiri dari motor industri,irigasi,dan daerah yang tidak boleh
padam terlalu lama.
beban yang terdiri dari motor industri,irigasi,dan daerah yang tidak boleh
padam terlalu lama.
Ini sering dikerjakan untuk
reclosering pertama dari urutan reclosering.
Kerugian dari penutup pertama adalah cukup waktu untuk menghilangkan
gangguan transient, seperti gangguan akibat cabang pohon yang mengenai
penghantar, benang layang-layang, ionisasi gas dari bunga api yang timbul
waktu gangguan dan belum hilang dalam waktu-waktu yang relatif singkat.
Kerugian dari penutup pertama adalah cukup waktu untuk menghilangkan
gangguan transient, seperti gangguan akibat cabang pohon yang mengenai
penghantar, benang layang-layang, ionisasi gas dari bunga api yang timbul
waktu gangguan dan belum hilang dalam waktu-waktu yang relatif singkat.
2.
Waktu tunda (time delay)
a. Menutup kembali 2 detik
Diharapkan dalam selang waktu ini telah cukup waktu untuk
menghilangkan gangguan, transient dan menghilangkan ionisasi gas. Bila
digunakan diantara fuse trip operational, maka waktu 2 detik ini cukup untuk
mendinginkan di fuse beban.
b. Menutup kembali 5 detik.
Selang waktu ini sering digunakan diantara operasi penjatuh
tunda dari
recloser substantion untuk memberikan kesempatan guna pendingin fuse disisi sumber, maka waktu 5 detik ini cukup untuk mendinginkan fuse disisi beban.
recloser substantion untuk memberikan kesempatan guna pendingin fuse disisi sumber, maka waktu 5 detik ini cukup untuk mendinginkan fuse disisi beban.
Yaitu selang 10 detik, 15 detik dan seterusnya, biasanya
digunakan bila
pengaman cadangan terdiri dari breaker yang terkontrol rele. Ini
memungkinkan timing disc pada rele lebih mempunyai cukup waktu untuk reset.
pengaman cadangan terdiri dari breaker yang terkontrol rele. Ini
memungkinkan timing disc pada rele lebih mempunyai cukup waktu untuk reset.
7.4. Cara Kerja Recloser
Waktu membuka dan menutup pada recloser dapat diatur pada
kurva
karakteristiknya. Secara garis besarnya adalah sebagai berikut (PLN (Persero)
1997 : PBO) :
karakteristiknya. Secara garis besarnya adalah sebagai berikut (PLN (Persero)
1997 : PBO) :
1. Arus yang
mengalir normal bila tidak terjadi gangguan.
2. Ketika terjadi sebuah gangguan,
arus yang mengalir melalui recloser
membuka dengan operasi “fast”.
membuka dengan operasi “fast”.
3. Kontak recloser akan menutup
kembali setelah beberapa detik, sesuai
setting yang ditentukan. Tujuan memberikan selang waktu adalah memberi
kesempatan agar gangguan tersebut hilang dari sistem, terutama gangguan
yang bersifat temporer.
setting yang ditentukan. Tujuan memberikan selang waktu adalah memberi
kesempatan agar gangguan tersebut hilang dari sistem, terutama gangguan
yang bersifat temporer.
4. Apabila yang terjadi adalah
gangguan permanen, maka recloser akan
membuka dan menutup balik sesuai setting yang ditentukan dan kemudian
lock out.
membuka dan menutup balik sesuai setting yang ditentukan dan kemudian
lock out.
5. Setelah gangguan permanen
dibebaskan oleh petugas, baru dapat
dikembalikan pada keadaan normal.
dikembalikan pada keadaan normal.
Reclose
dapat diklasifikasiakan sebagai berikut :
a. Menurut jumlah fasanya recloser dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Fasa tunggal
Recloser ini
dipergunakan sebagai pengaman saluran fasa tunggal, misalnya saluran cabang
fasa tunggal dari saluran utama fasa tiga.
2. Fasa tiga
Fasa tiga
umumnya untuk mengamankan saluran tiga fasa terutama pada
saluran utama.
saluran utama.
b. Menurut media redam busbar apinya adalah :
1. Media minyak (Bulb Oil)
2. Media hampa udara (Vaccum)
3. Media gas SF 6
c. Menurut peralatan pengendalinya
adalah :
1. Recloser terkendali hidraulik
Recloser ini mengguanakan kumparan penjatuh yang dipasang
seri terhadap beban (seri trip coil). Bila arus yang mengalir pada recloser
200% dari arus setting-nya, maka kumparan penjatuh akan menarik tuas yang
secara mekanik membuka kontak utama recloser.
2. Recloser terkontrol elektronis
Cara kontrol elektronis lebih fleksibel, lebih mudah diatur
dan diuji secara lebih teliti dibanding recloser terkontrol hidrolis.
Perlengkapan elektrolis diletakkan dalam kotak yang terpisah. Pengubah
karakteristik, tingkat arus penjatuh, urutan operasi dari recloser terkontrol
elektronis dapat dilakukan dengan mudah tanpa mematikan dan mengeluarkan dari
tangki recloser.
Dalam
pendeteksian gangguan recloser yang akan kita bahas yaitu
recloser tipe VWVE menggunakan kotak kontrol elektronik sebagai
pengaturannya maka dari itu kita perlu mengetahui tentang kotak kontrol
elektroniknya. Dibawah ini adalah gambar rangkaian kotak kontrol elektronis pada recloser:
recloser tipe VWVE menggunakan kotak kontrol elektronik sebagai
pengaturannya maka dari itu kita perlu mengetahui tentang kotak kontrol
elektroniknya. Dibawah ini adalah gambar rangkaian kotak kontrol elektronis pada recloser:
Gambar 7.1. Rangkaian Kotak Kontrol
Elektronik
Gambar 7.2. Diagram Satu Garis Current Transformer Pada Recloser
Pada gambar 7.1. diatas arus
jaringan yang dirasakan oleh ke3 buah
bushing pada bagian recloser circuit yang telah diturunkan oleh current
transformer terlebih dahulu dengan perbandingan 1000/1A (gambar 7.2.) akan
dikirim ke kotak kontrol pada bagian sensing circuit (melalui control cable)
yang secara terus menerus memonitor kondisi arus. Bila arus yang mengalir
melewati harga dari minimum trip resistor maka level detection and timming
circuit akan bekerja dengan mengirim sinyal ke trip circuit sesuai dengan
kurva arus waktu yang ditentukan dalam time current plug dan trip circuit ini
akan mengirim perintah ke recloser trip coil untuk bekerja. Setelah recloser
trip coil bekerja maka sequence relay mulai bekerja sesuai dengan urutan
waktu yang telah ditentukan dari waktu kerja (trip) pertama, setelah waktu
yang ditentukan selesai maka sequence relay akan mengirim sinyal ke
reclosing circuit yang selanjutnya mengirim perintah ke reloser close
initiating solenoid untuk bekerja. Jika gangguan tersebut adalah gangguan
permanen maka kotak kontrol elektronik tersebut akan bekerja sebanyak tiga
kali dan pada trip yang ke tiga sequence relay pada trip circuit akan membuka
sehingga recloser akan lock out.
bushing pada bagian recloser circuit yang telah diturunkan oleh current
transformer terlebih dahulu dengan perbandingan 1000/1A (gambar 7.2.) akan
dikirim ke kotak kontrol pada bagian sensing circuit (melalui control cable)
yang secara terus menerus memonitor kondisi arus. Bila arus yang mengalir
melewati harga dari minimum trip resistor maka level detection and timming
circuit akan bekerja dengan mengirim sinyal ke trip circuit sesuai dengan
kurva arus waktu yang ditentukan dalam time current plug dan trip circuit ini
akan mengirim perintah ke recloser trip coil untuk bekerja. Setelah recloser
trip coil bekerja maka sequence relay mulai bekerja sesuai dengan urutan
waktu yang telah ditentukan dari waktu kerja (trip) pertama, setelah waktu
yang ditentukan selesai maka sequence relay akan mengirim sinyal ke
reclosing circuit yang selanjutnya mengirim perintah ke reloser close
initiating solenoid untuk bekerja. Jika gangguan tersebut adalah gangguan
permanen maka kotak kontrol elektronik tersebut akan bekerja sebanyak tiga
kali dan pada trip yang ke tiga sequence relay pada trip circuit akan membuka
sehingga recloser akan lock out.
Jika gangguan yang terjadi bersifat sesaat maka setelah
reloser close
initiating solenoid bekerja kembali dan sensing circuit tidak merasakan
adanya arus yang melewati dari harga minimum trp resistor waktu yang telah
ditentukan dalam reset delay plug maka reset akan bekerja dan seluruh
rangkaian akan kembali seperti semula (sebelum terjadi gangguan).
initiating solenoid bekerja kembali dan sensing circuit tidak merasakan
adanya arus yang melewati dari harga minimum trp resistor waktu yang telah
ditentukan dalam reset delay plug maka reset akan bekerja dan seluruh
rangkaian akan kembali seperti semula (sebelum terjadi gangguan).
Gambar 7.3. Elektronic Control Box
Keterangan
gambar :
1.
Phase trip sequence selector
Untuk memilih jumlah trip cepat pada gangguan fasa yang
kurva arus
waktunya diprogram seperti pada pase trip timming socket 1.
waktunya diprogram seperti pada pase trip timming socket 1.
2.
Lock out selector
Untuk memilih jumlah total operasi sampai lock out (mengunci).
3.
Ground trip sequence selector
Untuk memilih jumlah operasi trip cepat pada gangguan tanah
yang kurva
arusnya diprogram seperti pada ground trip timming socket 1.
arusnya diprogram seperti pada ground trip timming socket 1.
4.
Minimum Trip Resistor
Untuk menyetel level arus trip minimum untuk ground dan
masing -
masing fasa. Tahanan catrige ini ditandai dengan arus primer.
masing fasa. Tahanan catrige ini ditandai dengan arus primer.
5.
Operation counter
Menunjukkan jumlah total trip.
6.
Sequence Relay.
Langkah-langkah kontrol melalui uirutan operasinya
7.
Ground Trip Blok/Normal Operation Switch
Memblok semua trip gangguan tanah dalam posisi keatas
menengah
operasi tanpa sengaja.
operasi tanpa sengaja.
8.
Manual Control Switch
Ada 2 Posisi Posisi trip :
Posisi open :
Penutup balik mengunci, memberikan urutan rele sampai urutan
mengunci dan memutus baterai.
Posisi close :
Penutup balik menutup mengembalikan rele urutan (sequence
relay)
keposisi start dan menghubungkan kembali batterai. Dipertahankan dalam posisi close menolak cold load inrush dengan memblok operasi trip cepat. Tetapi akan mengunci dalam posisi close, untuk gangguan permanen.
keposisi start dan menghubungkan kembali batterai. Dipertahankan dalam posisi close menolak cold load inrush dengan memblok operasi trip cepat. Tetapi akan mengunci dalam posisi close, untuk gangguan permanen.
9.
Control fuse
Memproteksi terhadap aliran battere jika sumber rangkaian
tegangan
demikian rendah untuk menutup balik (recloser).
demikian rendah untuk menutup balik (recloser).
Menyetel kotrol untuk sekali buka tutup dan lock out (mengunci)
dalam
posisi non reclosing tanpa mengganggu penyetelan operasi to lock out
selector.
posisi non reclosing tanpa mengganggu penyetelan operasi to lock out
selector.
11.
Lamp test / lock out indicating switch.
Menguji kondisi lampu signal dan mengecek untuk lock out
(mengunci).
12.
Lock out indikator signal lamp
Memberi indikasi secara visual untuk kontrol lock out bila
lock out test
switch dioperasikan.
switch dioperasikan.
13.
Batery test terminals
Memberikan jalan untuk test tegangan battery dan laju
pengisian.
14.
Reset Delay Plug
Menentukan interval tunda waktu sebelum kontol reset setelah
penutupan
berhasil selama urutan operasi. Nilai penundaan ditentukan oleh posisi dari
plug dalam socket.
berhasil selama urutan operasi. Nilai penundaan ditentukan oleh posisi dari
plug dalam socket.
15.
Pase Trip Timming Plugs
Memberikan suatu variasi kurva arus yang diintegrasikan pada
individu
plug, untuk mengkoordinasi operasi trip fasa terhadap pengaman cadangan
dan pengaman disisi hilir.
plug, untuk mengkoordinasi operasi trip fasa terhadap pengaman cadangan
dan pengaman disisi hilir.
16.
Ground Trip Timming Plug
Memberikan suatu variasi kurva arus waktu yang
diintegrasikan pada
individu plug untuk mengkoordinasi operasi trip ground terhadap
pengaman cadangan dan pengaman disisi hilir.
individu plug untuk mengkoordinasi operasi trip ground terhadap
pengaman cadangan dan pengaman disisi hilir.
Menentukan interval tunda untuk masing - masing operasi
penutup balik.
Harga tunda waktu ini ditentukan oleh posisi dari plug soket. Instant plug
hanya untuk interval reclose (penutup balik) pertama.
Harga tunda waktu ini ditentukan oleh posisi dari plug soket. Instant plug
hanya untuk interval reclose (penutup balik) pertama.
Pada recloser
tipe VWVE merek cooper, busur api yang ditimbilkan
pada saat pelepasan maupun pemasukannya di padamkan dengan
menggunakan media minyak. Sarana pemasukannya digerakkan oleh selenoid
closing oil yang mendapat sumber tegangan 20kV pada sisi sumber, sedang
pengendaliannya menggunakan remot melalui elektronik control box dengan
tegangan 24 volt yang diperoleh dari batere yang diisi terus menerus.
Syarat pemasuakan recloser tipe VWVE merek cooper :
pada saat pelepasan maupun pemasukannya di padamkan dengan
menggunakan media minyak. Sarana pemasukannya digerakkan oleh selenoid
closing oil yang mendapat sumber tegangan 20kV pada sisi sumber, sedang
pengendaliannya menggunakan remot melalui elektronik control box dengan
tegangan 24 volt yang diperoleh dari batere yang diisi terus menerus.
Syarat pemasuakan recloser tipe VWVE merek cooper :
1. Recloser
tipe VWVE merek cooper pemasukannya sepenuhnya dilakukan
oleh selenoid closing oil, di mana alat ini terpasang didalam recloser dan
tersambung dengan tegangan 20 kV maka syarat umumnya adalah harus
ada tegangan 20 kV.
oleh selenoid closing oil, di mana alat ini terpasang didalam recloser dan
tersambung dengan tegangan 20 kV maka syarat umumnya adalah harus
ada tegangan 20 kV.
2. Sumber tegangan DC 24 volt dari
battery cadmium.
3. DC fuse 0,38 A, dalam keadaan
baik.
4. Reset trip manual stik, yang ada
diujung samping atas recloser harus
selalu pada posisi reset.
selalu pada posisi reset.
7.7. Recloser Tipe VWVE (Vaccum
Withstand Voltage Electronical) Merek Cooper
Recloser adalah sebuah alat proteksi atau pengaman pada
jaringan
tegangan menengah 20 kV. Cara kerja recloser mengamankan dan melindungi manusia atau komponen listrik yang vital yaitu dengan memutus aliran listrk
pada daerah yang terjadi gangguan secara otomatis secepat mungkin sehingga tidak mengganggu sistem jaringan yang lain.
tegangan menengah 20 kV. Cara kerja recloser mengamankan dan melindungi manusia atau komponen listrik yang vital yaitu dengan memutus aliran listrk
pada daerah yang terjadi gangguan secara otomatis secepat mungkin sehingga tidak mengganggu sistem jaringan yang lain.
Ganbar 4 dibawah ini adalah sebuah recloser tipeVWVE merek
cooper,
sedang pada gambar 5 a,b,dan c menunjukkan ukuran fisik dari recloser. Pada
gambar 6 menunjukkan bagian - bagian recloser tipe VWVE merek cooper.
sedang pada gambar 5 a,b,dan c menunjukkan ukuran fisik dari recloser. Pada
gambar 6 menunjukkan bagian - bagian recloser tipe VWVE merek cooper.
Gambar7.4. Recloser Tipe VWVE Merek Cooper
Gambar 7.5.b.Tampak Samping
Gambar 7.6. Bagian-bagian Dari Recloser Tipe VWVE Merek
Cooper.
Keteranagan gambar :
1. Closing tool untuk memasukkan
tongkat yang digunakan untuk mereclose
recloser secara manual.
recloser secara manual.
2. Closing selenoid contactor
sebagai tenaga untuk mereclose recloser secara
otomatis setelah mendapat sinyal dari kotak kontrol.
otomatis setelah mendapat sinyal dari kotak kontrol.
3. Fuse berfungsi untuk melindungi
sistem ketika closing selenoid gagal
bekerja.
bekerja.
4. Insulating support sebagai
penopang vaccum interrupter yang terbuat dari
fiberglass.
fiberglass.
5. Sleet hold tempat operasi manual
dan sebagi petunjuk indicator posisi.
6. Current exchange terbuat dari
beryllium-cooper untuk hambatan yang
rendah dan ketahanan yang tinggi.
rendah dan ketahanan yang tinggi.
7. Vaccum interrupter sebagai tenaga
recloser untuk trip dan sebagai media
peredam bunga api.
peredam bunga api.
7.8.1. Gangguan Permanen
Gambar 7. 7. Gangguan Permanen Pada Jaringan
Jika pada daerah A (pada gambar 7 diatas) terjadi gangguan
permanen
atau gangguan tetap maka recloser akan memutus (trip) selama tiga kali dan
recloser akan reclose sebanyak dua kali. Untuk lebih jelasnya kita lihat grafik
berikut :
atau gangguan tetap maka recloser akan memutus (trip) selama tiga kali dan
recloser akan reclose sebanyak dua kali. Untuk lebih jelasnya kita lihat grafik
berikut :
Gambar 7. 8. Grafik Pemutus Recloser
Jika Terjadi Gangguan Tetap
Jika terjadi
gangguan permanen (gambar 8) maka recloser akan
memutus dan dalam waktu 5 detik recloser akan reclose atau masuk
(menutup) dan karena gangguan yang terjadi adalah gangguan tetap maka
recloser akan kembali memutus dan dalam waktu 10 detik akan kembali
menutup (reclose) dan selanjutnya akan kembali membuka untuk yang ketiga
kalinya untuk kemudian recloser akan lock out dan baru dapat dihubungkan
lagi secara manual setelah daerah yang terjadi gangguan dapat diatasi.
memutus dan dalam waktu 5 detik recloser akan reclose atau masuk
(menutup) dan karena gangguan yang terjadi adalah gangguan tetap maka
recloser akan kembali memutus dan dalam waktu 10 detik akan kembali
menutup (reclose) dan selanjutnya akan kembali membuka untuk yang ketiga
kalinya untuk kemudian recloser akan lock out dan baru dapat dihubungkan
lagi secara manual setelah daerah yang terjadi gangguan dapat diatasi.
Jika terjadi
gangguan sesaat akibat sambaran petir (pada gambar 9 dan
10) maka recloser akan membuka (trip) dan 5 detik kemudian akan menutup
(reclose) kembali dan setelah itu recloser akan kembali beroperasi seperti biasa.
10) maka recloser akan membuka (trip) dan 5 detik kemudian akan menutup
(reclose) kembali dan setelah itu recloser akan kembali beroperasi seperti biasa.
Gambar 7. 9. Recloser Mengalami
Gangguan Sesaat
Gambar 7.10. Grafik Pemutus Recloser Jika Terjadi Gangguan
Sesaat
7.8.3. Gangguan Semi Permanen
Jika terjadi gangguan semi permanen (biasa disebabkan oleh
dahan
pohon yang melintang diatas jaringan akibat terkena tiupan angin), recloser
akan reclose berulang - ulang setiap gangguan terjadi tetapi apabila gangguan
tersebut sudah melewati reset time (gambar 11). Reset time ini diatur (setting)
dalam jangka waktu 60-120 detik.
pohon yang melintang diatas jaringan akibat terkena tiupan angin), recloser
akan reclose berulang - ulang setiap gangguan terjadi tetapi apabila gangguan
tersebut sudah melewati reset time (gambar 11). Reset time ini diatur (setting)
dalam jangka waktu 60-120 detik.
7.9. Pemasangan Recloser Pada Jaringan
Gambar 7.12. Pemasangan Recloser Pada Tiang Jaringan
Recloser
dipasang pada jarak 8 Km (PLN, Recloser 1999). Jarak tersebut dipasang antara PMT pada
gardu induk dengan recloser yang pertama (terdekat). Sedangkan untuk memasang
recloser yang kedua tetap sama dengan pemasangan recloser yang kesatu atau juga
dengan mempertimbangkan kondisi yng dilewati jaringan. Tujuan dari dipasang
recloser tersebut adalah (PLN,Recloser 1999) :
1. Melindungi suatu peralatan
listrik yang relative nilai harganya lebih mahal
atau penting, agar tidak terjadi kerusakan yang total.
atau penting, agar tidak terjadi kerusakan yang total.
Pemasangan recloser sebagai sietem proteksi pada jaringan
distribusi
tegangan menengah 20 KV sederhana, sepanjang jaringan tersebut beroperasi
secara radial atau satu arah (gambar 13).
tegangan menengah 20 KV sederhana, sepanjang jaringan tersebut beroperasi
secara radial atau satu arah (gambar 13).
Gambar 7.13. Pemasangan Recloser Pada Jaringan Yang
Beroperasi Secara Radial
BAB VIII
PENUTUP
Berdasarkan
pembahasan pada bab-bab sebelumnya yang diperoleh dari pengamatan secara
langsung dan data-data selama melakukan Praktek Kerja Lapangan di PT. PLN
(PERSERO) Area Pelayanan dan Jaringan Semarang bertempat di Pemuda Nomor
93 Semarang, maka penulis mempunyai kesimpulan dan saran yang sekiranya dapat
membangun bagi kedua belah pihak, yaitu pihak PT. PLN (PERSERO) Area Pelayanan
dan Jaringan Semarang dan POLITEKNIK Negeri Semarang. Diantaranya adalah :
SIMPULAN :
1. PT. PLN (PERSERO) APJ Semarang
bekerja untuk konsumen, pengusaha kecil dan industri dalam hal penyediaan dan
pelayanan jasa penyediaan tenaga listrik.
2. Selain proses penyediaan tenaga
listrik, PT. PLN (PERSERO) APJ Semarang dalam pelayanan jasanya juga mengutamakan
kehandalan sistem distribusi guna menjamin mutu pelayanan pada konsumen
(masyarakat).
3. Sistem proteksi distribusi
merupakan salah satu factor utama dalam menjamin keberlanjutan proses
penyaluran tenaga listrik dari pembangkit pada konsumen, karena sistem proteksi
melindungi jaringan dari kerusakan yang disebabkan oleh gangguan yang dapat
timbul karena berbagai factor.
4. Recloser merupakan alat proteksi
jaringan distribusi tegangan menengah (JTM) yang berfungsi untuk mengamankan
jaringan dari kerusakan yang disebabkan gangguan sementara atau permanen, alat
pengaman ini bekerja secara otomatis guna mengamankan suatu sistem dari arus
lebih yang diakibatkan adanya gangguan hubung singkat.
SARAN
Setelah menyelesaikan praktek kerja
lapangan penyusun ingin memberikan saran-saran yang mungkin dapat memberikan
manfaat :
Saran kepada PT. PLN (PERSERO) APJ Semarang :
1. Perlunnya peningkatan kerjasama
antara perusahaan dalam hal ini PT.PLN (PERSERO) APJ Semarang dengan pihak
pendidikan dalam hal ini POLITEKNIK NEGERI Semarang untuk dalam pengmbangan
teknologi tepat guna untuk masyarakat.
2. Pengembangan
teknologi recloser yang masih menggunakan sistem analog dengan recloser yang
baru yaitu dengan sistem digital berbasis mikrokontroler agar lebih efisien dan
lebih handal dalam pengoperasian dan dapat dipantau opersai kerjanya dari
sistem seperti sitem SCADA.
Saran kepada POLITENIK NEGERI SEMARANG :
1. Perlunnya peningkatan kerjasama
antara perusahaan, dalam hal ini PT.PLN (PERSERO) APJ Semarang dengan pihak pendidikan
dalam hal ini POLITEKNIK NEGERI Semarang untuk pengembangan teknologi tepat
guna untuk masyarakat.
2. Mengingat
pentingnya mikrokontroler di pabrik/industri, maka mata kuliah mikrokontroler
sebaiknya menjadi titik berat dalam pembelajaran dalam kuliah, hal ini
dimaksudkan karena disamping perkembangan teknologi mikrokontroler yang sudah
sangat berkembang juga disebabkan aplikasi mikrokontroler di pabrik/industri
yang sudah sangat rumit dan kompleks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar